Dekan FMIPA UB Tegaskan Potensi Energi Geotermal Indonesia
- 20 Feb 2026 12:38 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Sukir Maryanto, Ph.D., yang juga memimpin Brawijaya Volcano & Geothermal Research Center (BRAVO GRC), menyatakan bahwa letak geotektonik Indonesia menjadikan negara ini memiliki cadangan energi panas bumi yang besar.
“Indonesia memiliki banyak gunung api aktif sebagai konsekuensi berada di Ring of Fire. Kondisi ini membuat potensi energi panas bumi kita sangat melimpah,” ujar Prof. Sukir, Jumat (20/2/2026).
Sebagai Guru Besar di bidang vulkanologi dan geotermal, ia menerangkan bahwa panas bumi termasuk energi terbarukan yang tersedia secara alami dan berkesinambungan. Dibandingkan energi fosil, sumber ini tidak akan habis dan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah daripada pembangkit berbasis batu bara maupun minyak.
Ia menjelaskan, pemanfaatan panas bumi dapat dilakukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang mampu menyuplai listrik secara stabil sebagai base load. Sejumlah proyek telah beroperasi di Indonesia, antara lain PLTP Kamojang dan PLTP Dieng.
Selain untuk pembangkitan listrik, energi geotermal juga bisa dimanfaatkan secara langsung, seperti untuk pemanas air, pengeringan hasil pertanian, budidaya perikanan, hingga pengembangan wisata pemandian air panas. Pemanfaatan tersebut dinilai berkontribusi pada penguatan ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Meski demikian, ia menilai pemahaman masyarakat mengenai energi baru terbarukan, khususnya geotermal, masih perlu diperluas.
“Selama ini pemanfaatan geotermal belum maksimal. Salah satu faktornya adalah minimnya literasi publik. Pemerintah perlu lebih masif mengenalkan energi panas bumi kepada masyarakat agar kesadaran dan dukungan publik semakin kuat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa di tengah dinamika global dan semakin terbatasnya cadangan minyak serta gas bumi, Indonesia perlu mempercepat pengembangan sumber energi alternatif.
“Jika tidak sejak sekarang kita memperkuat pengenalan dan pengembangan energi alternatif seperti geotermal, Indonesia berpotensi mengalami kesulitan pasokan energi di masa depan. Apalagi sebagian kebutuhan energi kita masih bergantung pada impor,” pungkas Prof. Sukir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....