Pelukan Ayah di Gerbang Sekolah, Langkah Kecil yang Menguatkan Masa Depan Anak

  • 13 Jul 2026 20:32 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Sebelum bel sekolah berbunyi, puluhan pelukan mengiringi langkah-langkah kecil anak-anak menuju ruang kelas. Ada tangan yang menggenggam erat, doa yang dibisikkan pelan, dan senyum yang berusaha menyembunyikan rasa haru.

Di sejumlah sekolah di Kabupaten Lumajang, hari pertama sekolah menjadi lebih dari sekadar dimulainya tahun ajaran baru. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan pertama seorang anak selalu tumbuh dari rumah, melalui keluarga yang hadir dan membersamai setiap proses tumbuh kembangnya.

Suasana itu terlihat pada pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (13/7/2026). Halaman sekolah yang biasanya didominasi para ibu pagi itu dipenuhi sosok-sosok ayah yang menggandeng tangan anak, memeluk sebelum berpisah, mengusap kepala penuh kasih, hingga mengabadikan momen pertama sekolah bersama keluarga.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang digagas secara nasional sebagai upaya mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Namun di Lumajang, makna gerakan tersebut terasa lebih luas. Yang dibangun bukan sekadar kebiasaan mengantar anak ke sekolah, melainkan kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga.

Di halaman MIS Nurul Islam Kota Lumajang, Yusuf berdiri menatap putrinya melangkah menuju kelas. Baginya, mengantar anak ke sekolah bukanlah rutinitas yang muncul karena adanya gerakan nasional. Aktivitas itu telah menjadi bagian dari keseharian keluarganya.

"Mamanya repot di rumah, jadi memang setiap hari saya yang mengantar," ujarnya.

Menurut Yusuf, yang paling penting bukan siapa yang mengantar, melainkan memastikan anak merasakan perhatian, kasih sayang, dan dukungan dari keluarganya.

"Kita kasih pengertian siapa saja yang antar sama saja," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Arif. Ia mengaku bergantian dengan istrinya mengantar anak ke sekolah. Namun setiap kali memiliki kesempatan, ia memilih hadir sendiri, terutama pada hari pertama sekolah yang menjadi pengalaman baru bagi sang anak.

"Sama saja, kadang ibunya, kadang saya," ujarnya.

Bagi Arif, beberapa menit perjalanan menuju sekolah menjadi ruang sederhana untuk membangun kedekatan yang tidak tergantikan.

"Saya merasa tidak direpotkan, saya senang sekali, jadi memberi kesan ke anak-anak, apalagi hari pertama," tuturnya.

Cerita yang sama juga hadir di SD Citrodiwangsan 1 Lumajang. Dayat mengantar putranya yang untuk pertama kali mengenakan seragam sekolah dasar. Rutinitas itu bahkan berencana terus ia lakukan karena searah dengan perjalanan menuju tempat kerjanya.

"Ibunya ngajar TK, dulu sama ibunya, sekarang SD sama saya sekalian berangkat kerja," katanya.

Kisah-kisah sederhana tersebut memperlihatkan bahwa pendampingan keluarga tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Mengantar anak ke sekolah, mendengarkan cerita mereka di perjalanan, memberikan pelukan sebelum berpisah, atau membisikkan doa sebelum memasuki kelas merupakan bentuk kehadiran yang memberi rasa aman sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri anak.

Sejumlah kajian di bidang pendidikan dan pengasuhan menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua, termasuk ayah, berkontribusi positif terhadap perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Kehadiran keluarga membantu membangun karakter, meningkatkan motivasi belajar, serta memperkuat hubungan emosional yang menjadi bekal anak menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Karena itu, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah bukan sekadar mengajak ayah hadir pada satu hari tertentu. Momentum ini mengingatkan bahwa pengasuhan terbaik lahir ketika ayah, ibu, wali, maupun anggota keluarga lainnya saling berbagi peran dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Di Lumajang, hari pertama MPLS tahun ini menghadirkan pesan yang melampaui dimulainya kalender pendidikan. Ia mengajarkan bahwa sekolah menjadi tempat anak mengenal ilmu pengetahuan, tetapi keluarga tetap menjadi ruang pertama tempat mereka belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, disiplin, dan keberanian menghadapi kehidupan.

Sebab, masa depan anak tidak dibangun hanya oleh pelajaran di dalam kelas. Ia tumbuh dari keluarga yang memilih untuk hadir, mendampingi setiap langkah, dan menjadikan kasih sayang sebagai pelajaran pertama yang akan selalu mereka ingat. Di situlah fondasi pendidikan yang sesungguhnya dibangun. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....