FAO Dukung Pengembangan Pisang Mas Kirana Lumajang lewat Teknologi GIES

  • 28 Mei 2026 14:50 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID,Jember- Bupati Lumajang Indah Amperawati (Bunda Indah) melakukan audiensi bersama Food and Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian PBB di Rumah Makan Pondok Asri, Rabu (27/5/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan pengembangan komoditas unggulan Pisang Mas Kirana melalui program pertanian berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi Geographical Indications, Environment and Sustainability (GIES).

Kepala Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) untuk Indonesia Rajendra Aryal menyampaikan bahwa FAO mendukung pemasangan stasiun GIES di Lumajang sebagaimana tertuang dalam Surat Bupati Lumajang Nomor: 500.6.4.5/55/427.44/2026 tanggal 26 Maret 2026 tentang izin pemasangan stasiun GIES.

Ia menjelaskan bahwa bantuan teknologi Geographical Indications, Environment and Sustainability (GIES) bertujuan untuk melacak lingkungan asal produk bagi konsumen serta melindungi kekayaan intelektual atau indikasi geografis bagi petani dan pemerintah daerah.

“Melalui teknologi ini, data lingkungan geografis asli dapat dihubungkan dengan produk, komunitas, dan konsumen menggunakan sensor internet (IoT) dan big data. Selain itu, program ini juga bertujuan melindungi produk khas lokal agar tidak disalahgunakan atau dipalsukan,” jelasnya.

FAO juga mendorong penerapan praktik pertanian berkelanjutan melalui pendekatan ilmiah dan partisipatif guna menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.

Sementara itu Bupati Lumajang menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada FAO atas bantuan teknologi Geographical Indications, Environment and Sustainability (GIES) serta dukungan terhadap pengembangan Pisang Mas Kirana yang selama ini menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Lumajang.

Bunda Indah menegaskan bahwa Program Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SL-GAP) merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas petani, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong praktik pertanian yang baik, aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

“Selain meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian, penerapan GAP juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk pertanian kita di pasar yang lebih luas, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Adapun jumlah peserta pelatihan SL-GAP untuk petani Pisang Mas Kirana meliputi Kecamatan Pasrujambe sebanyak 50 orang, Kecamatan Senduro 25 orang, dan Kecamatan Gucialit 25 orang. Sementara untuk program Sekolah Lapang Good Handling Practices (SL-GHP), Kecamatan Pasrujambe diikuti 10 orang, serta Kecamatan Senduro dan Gucialit masing-masing 10 orang.

Pisang Mas Kirana sendiri merupakan salah satu buah khas asli Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Pada tahun 2025, luas pengembangan Pisang Mas Kirana di Kabupaten Lumajang mencapai 409.516 rumpun atau setara 409 hektare, dengan produksi mencapai 3.681 kuintal atau sekitar 368 ton per tahun. Sentra pengembangan komoditas tersebut berada di Kecamatan Senduro, Pasrujambe, dan Gucialit.

Bupati Lumajang berharap Pisang Mas Kirana dapat terus berkembang sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat identitas Lumajang sebagai “Kota Pisang”.

“Harapan terhadap Pisang Mas Kirana bagi Lumajang sangat besar. Komoditas ini bukan sekadar buah, tetapi sudah menjadi penggerak ekonomi, identitas daerah, dan peluang masa depan bagi masyarakat Lumajang,” tambahnya.

Selain itu Pemerintah Kabupaten Lumajang juga berharap dengan pemasangan stasiun GIES dapat mendukung mitigasi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, mengembangkan rantai pasok Pisang Mas Kirana agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, serta memperkuat posisi produk lokal Lumajang agar mampu bersaing dengan standar global yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Kominfo-Lmj/Fb)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....