Sumbar Alami Deflasi Pascabencana

  • 02 Feb 2026 16:37 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengalami deflasi sebesar 1,15 persen pada Januari 2026. Statistisi Ahli Madya BPS  Sumbar, Ilhamiwitri mengatakan, sebelumnya pada Desember 2025 Sumbar tercatat mengalami inflasi terdalam secara nasional bersama dua provinsi lainnya yang terdampak bencana hidrometeorologi.

“Deflasi Sumbar pada Januari 2026 ini, salah satunya karena beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Desember tahun lalu, kembali ke harga normal pada Januari 2026. Hal ini menandakan intervensi proses pemulihan pascabencana di Sumbar berlangsung positif,” kata Ilhamiwitri, Senin 2 Februari 2026.

Ilhamiwitri menjelaskan, komoditas yang paling dominan mendorong deflasi pada Januari 2026 antara lain, cabai merah yang mengalami perubahan harga sebesar 40,02 persen dengan andil mencapai 1,16 persen, diskon tarif air minum PAM sebesar 12,79 persen dengan andil 0,12 persen serta tarif angkutan antar kota yang mengalami perubahan harga 17,22 persen dengan andil mencapai 0,05 persen. “Sementara tujuh dari 10 kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi salah satunya emas perhiasan,” ujarnya. 

Ilhamiwitri menjelaskan, secara bulanan seluruh kabupaten/ kota di Sumbar mengalami deflasi pada Januari 2026. Tercatat, Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi paling dalam sebesar 1,84 persen, sedangkan yang terendah terjadi di Kota Bukittinggi sebesar 0,73 persen. 

“Sementara di Kota Padang dan Kabupaten Dharmasraya juga mengalami deflasi, dengan masing-masing tercatat sebesar 1,02 persen dan 0,92 persen. Sementara inflasi secara year on year, pada empat kabupaten/ kota dimaksud seluruhnya mengalami inflasi, dengan tertinggi terjadi di Pasaman Barat sebesar 4,29 persen sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,35 persen,” katanya.

Lebih lanjut, menurutnya indeks harga konsumen pada bulan Februari 2026 berpotensi mengalami perubahan harga yang cukup signifikan. “Apalagi Sumbar akan dihadapkan dengan masuknya bulan puasa, pembelian komoditas penting seperti beras perlu menjadi perhatian. Namun menurut kami, Bulog dan pemerintah daerah sudah mengambil langkah penting untuk menjaga stabilitas harga di pasaran,” kata Ilhamiwitri.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, Sumbar mengalami deflasi pada Januari 2026 bersama dua provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi. Sumbar tercatat memiliki statistic deflasi lebih baik, sebesar 1,48 persen setelah deflasi paling dalam mencapai 1,15 persen pada Desember 2025.

“Sementara Sumatera Utara mengalami deflasi sebesar 0,75 persen setelah sebelumnya inflasi mencapai 1,66 persen pada akhir tahun lalu, serta Aceh mengalami juga deflasi di awal tahun sebesar 0,15 persen setelah sebelumnya inflasi mencapai 3,60 persen,” kata Ateng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....