Emotional Eating, saat Makan Dipicu oleh Perasaan
- 24 Mar 2026 15:42 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Pernahkah kamu tiba-tiba ingin makan cepat saji atau camilan manis padahal tidak benar-benar lapar? Atau mendadak mencari es krim, martabak, hingga minuman manis saat sedang sedih atau stres? Jika iya, kamu mungkin sedang mengalami emotional eating, yaitu kondisi ketika emosi mengambil alih kendali atas nafsu makan, bukan rasa lapar yang sebenarnya. Fenomena ini cukup umum terjadi, terutama di tengah tekanan aktivitas dan tuntutan sehari-hari.
Secara ilmiah, makanan tinggi gula dan lemak memang dapat memberikan efek “reward” pada otak, sehingga membuat perasaan menjadi lebih baik dalam waktu singkat. Namun, efek ini hanya bersifat sementara. Dalam jangka panjang, emotional eating justru dapat memicu penambahan berat badan, rasa bersalah, hingga siklus stres yang terus berulang. Makanan yang seharusnya menjadi sumber energi, berubah menjadi pelarian emosional yang tidak menyelesaikan masalah utama.
Untuk mengatasi hal ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali pemicu emosi. Cobalah lebih peka terhadap perasaan diri sendiri, apakah kamu makan karena lapar atau hanya ingin menghibur diri. Membuat catatan sederhana tentang makanan dan suasana hati juga bisa membantu menemukan pola kebiasaan tersebut. Dengan memahami pemicunya, kamu akan lebih mudah mengontrol keinginan makan yang muncul secara tiba-tiba.
Selain itu, penting untuk memiliki strategi pengganti yang lebih sehat. Ketika dorongan untuk makan muncul, coba alihkan perhatian selama beberapa menit dengan aktivitas ringan seperti berjalan, mendengarkan musik, atau menarik napas dalam. Mengelola stres melalui cara yang lebih positif seperti olahraga, meditasi, atau tidur cukup juga dapat membantu mengurangi kebiasaan ini. Jika dirasa sulit dikendalikan, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional agar pola makan dan kesehatan mental tetap terjaga dengan baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....