Jalur Nyawa di Ujung Maut, saat TMMD 127 Memapas Angkuhnya Bukit di Bumi Pagaruyung

  • 17 Mar 2026 16:50 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, PADANG - Lembah Tanah Datar sedang tidak baik-baik saja. Di saat trauma galodo (banjir bandang) masih membekas di dinding-dinding rumah yang retak, Gunung Marapi di cakrawala tak henti-hentinya mengirimkan abu kelabu yang tidak lain pengingat dingin yang menegaskan maut dan bencana bisa datang kapan saja.

Namun, di tengah kepungan kecemasan itu, di Nagari Pagaruyung, sebuah mukjizat sedang dipahat oleh tangan-tangan legam berseragam hijau. Ini bukanlah sekadar laporan tentang pembangunan fisik. Ini adalah kisah tentang bagaimana TMMD ke-127 Kodim 0307/Tanah Datar menjadi jawaban atas doa-doa warga yang nyaris putus asa di sela-sela dentuman erupsi.

Bagi warga Kecamatan Tanjung Emas, jalan isolasi yang kini dibuka lebar oleh Satgas TMMD bukan sekadar akses ekonomi. Di wilayah rawan bencana, jalan ini ibarat jalur nyawa.

“Bayangkan bertahun-tahun kami terkurung dalam akses yang lumpuh. Saat banjir bandang menerjang atau Gunung Marapi tak henti bergejolak, pelarian adalah sesuatu yang tak kunjung bisa kami lakukan,” ujar Naf, warga Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas kepada RRI, Rabu, 11 Maret 2026 bersamaan dengan penutupan TMMD 127 Kodim 0307/Tanah Datar.

Bukit yang dulu angkuh kini telah dipapas. Begitu pun semak belukar disingkap. Lebarnya jalan baru ini adalah jaminan saat alarm bencana berbunyi, diharapkan tak akan ada lagi warga yang tertinggal karena akses yang puluhan tahun mati.

Jihad Prajurit TNI di Penghujung Ramadan

Ada pemandangan yang sanggup menggetarkan nurani siapa pun yang menyaksikannya. Di saat bulan suci Ramadan menyapa, ketika raga seharusnya beristirahat usai seharian menahan lapar, para prajurit TNI justru memilih jihad yang berbeda.

Di bawah sorot lampu darurat yang berpendar di tengah gelapnya malam Pagaruyung, denting cangkul dan deru mesin molen tetap terjaga. Mereka bekerja melampaui batas fisik. Saat warga terlelap atau bersiap sahur, para prajurit ini bermandikan keringat di bawah suhu dingin lereng gunung. Apakah gerangan yang mereka lakukan? Intinya para prajurit menyadari setiap menit yang mereka korbankan adalah harapan bagi warga untuk segera memiliki atap yang layak sebelum hujan besar kembali datang.

“Mata kami mungkin berat karena kantuk, dan perut kami mungkin perih karena puasa. Tapi saat melihat bayangan warga yang masih meringkuk di tenda pengungsian, lelah ini mendadak hilang. Mengaduk semen di terik panas bahkan dalam dinginnya malam Pagaruyung adalah cara kami bertadarus. Biarlah keringat ini jatuh ke bumi, asalkan sebelum Idul Fitri tiba, warga utamanya anak-anak dan lansia sudah punya atap yang layak untuk bersujud,” ungkap Serda Girsang, Satgas TMMD 127/Tanah Datar.

TMMD 127 hadir tepat saat warga berada di titik nadir. Program rehabilitasi rumah tidak layak huni menjadi oase. Melihat seorang ibu tua mengusap air mata saat melihat fondasi rumahnya kembali kokoh adalah potret kemanunggalan yang tak bisa didefinisikan dengan kata-kata.

Prajurit Kodim 0307/Tanah Datar tidak hanya membangun semen dan beton; mereka sedang memulihkan martabat dan rasa aman manusia yang sempat hancur diterjang bencana. Mereka hadir bukan sebagai tamu, tapi sebagai anak kandung rakyat yang pulang untuk menyembuhkan luka ibunya.

“Tuhan mengirimkan malaikat berseragam hijau untuk kami. Saya tidak sanggup melihat mereka, Nak... Tengah malam saat kami sudah terlelap di tenda yang dingin, suara cangkul mereka masih terdengar. Mereka berpuasa, tapi ototnya tak berhenti mengaduk semen. Saya menangis bukan karena sedih lagi, tapi karena tidak menyangka ada orang yang mau berkorban sejauh itu untuk kami yang bukan siapa-siapa ini. Rumah ini bukan cuma dinding bagi saya, tapi bukti kalau kami tidak dilupakan,” ujar Masraini, warga terdampak bencana di Nagari Pagaruyung yang juga penerima manfaat program RTLH.

“Kami datang sebagai prajurit, tapi kami pulang sebagai anak," ujar Dansatgas TMMD Ke-127 Kodim 0307/Tanah Datar, Letkol Inf Agus Priyo Pujo Sumedi,

Ada gurat kelelahan yang nyata di wajahnya. Namun, sore itu di penghujung masa pengabdian, lelahnya seolah luruh bersama hembusan angin Nagari Pagaruyung. Di matanya yang biasanya tegas, tersimpan sebuah keharuan yang sulit disembunyikan.

Menjelang penutupan TMMD, ia tak lagi bicara soal angka progres fisik atau tenggat waktu. Ia bicara tentang hati.

Sambil menatap jalan yang kini sudah mulus dan masjid yang berdiri megah, Letkol Agus teringat awal mula mereka menginjakkan kaki di tempat itu. Baginya, TMMD bukan sekadar tugas negara untuk memperbaiki infrastruktur, melainkan perjalanan untuk merebut kembali hati rakyat.

"Melihat anak-anak berlarian di jalan yang dulu berlumpur, melihat mesjid yang kini tak lagi sepi, rasanya seperti membangun rumah untuk keluarga sendiri," ungkapnya dengan nada suara yang merendah, penuh ketulusan.

Baginya, pencapaian terbesar TMMD 127 bukan hanya pada kokohnya jembatan atau mulusnya aspal, melainkan pada kembalinya marwah Pagaruyung yang kini tak lagi dijuluki "kampung mati". Ia merasa terharu melihat warga kini memiliki harapan baru.

Kunjungan Tim Wasev TMMD Ke-127

Suasana haru menyelimuti lokasi pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) saat Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TMMD Ke-127 Tahun 2026 datang meninjau lokasi. Tim Wasev yang dikomandoi Kolonel Inf Musmulyadi bukan untuk sekadar urusan administratif formal, melainkan bentuk penegasan negara hadir melalui tangan-tangan kekar prajuritnya.

Kolonel Inf Musmulyadi yang didampingi Dansatgas TMMD dan unsur Forkopimda melihat dari dekat setiap sudut rumah yang kini mulai menunjukkan bentuknya yang layak. Bagi tim Wasev, memastikan progres pengerjaan tepat waktu adalah kewajiban, namun memastikan manfaatnya menyentuh hati rakyat adalah sebuah kemuliaan.

"Pengawasan ini penting untuk memastikan apa yang kita bangun benar-benar menjadi oase bagi masyarakat. Sinergi antara TNI, pemerintah, dan warga adalah kunci utama," ujar Kolonel Musmulyadi dengan nada tenang.

Program RTLH dalam TMMD Ke-127 ini memang dirancang untuk mengubah hunian yang sebelumnya memprihatinkan menjadi tempat tinggal yang sehat, nyaman, dan bermartabat bagi masyarakat kurang mampu.

Puncak emosi dalam kunjungan tersebut pecah saat Masraini menyambut rombongan. Dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang sedikit bergetar, ia tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Impian memiliki rumah yang tak lagi bocor saat hujan, kini tinggal menghitung hari untuk menjadi kenyataan.

“Saya tidak pernah menyangka impian ini akan terwujud. Terima kasih Bapak-bapak TNI yang sudah bekerja keras membangun rumah saya. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan luar biasa ini,” ungkapnya penuh haru sembari menyalami para petugas.

TMMD Ke-127 di Nagari Pagaruyung ini kembali membuktikan, sejatinya kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar semboyan di atas kertas. Ia adalah keringat yang menetes di lapangan dan senyuman yang merekah di wajah warga.

Melalui pembangunan ini, diharapkan kesejahteraan masyarakat Tanah Datar semakin meningkat, seiring dengan semakin kokohnya ikatan batin antara prajurit dan rakyat yang mereka jaga.

Benteng yang Tak Kasat Mata

Kini, saat kabut pagi turun di Pagaruyung, ada yang berbeda. Ada rasa aman yang menyelusup di antara aroma tanah basah. Ada nada yang berbeda dalam tawa anak-anak di Nagari Pagaruyung menyambut Idul Fitri 2026 . Jika tahun-tahun sebelumnya sunyi seolah mengepung sudut-sudut jorong, kini keriuhan bocah-bocah menjadi musik paling merdu yang terdengar di telinga warga.

Nagari yang dulunya sempat dijuluki "kampung mati" karena sepinya denyut pembangunan dan suramnya fasilitas publik, kini telah bersalin rupa. Bayang-bayang kemuraman itu terkikis habis, berganti dengan derap langkah kecil yang antusias berlari menuju pusat kehidupan mereka yang baru, masjid yang baru saja usai direnovasi.

"Mak, mesjid kita sekarang bagus sekali ya. Tidak ada lagi tetesan air kalau hujan. Lantainya juga tidak dingin lagi," bisik Andi polos kepada ibunya saat mereka mencari barisan saf.

TMMD 127 telah meninggalkan lebih dari sekadar jalan dan bangunan. Mereka meninggalkan jejak kasih sayang dan bukti, dalam kondisi segetir apa pun, di bawah ancaman erupsi maupun banjir, negara melalui pundak para prajurit TNI AD hadir memeluk rakyatnya. Pagaruyung kini punya benteng baru. Bukan benteng batu yang kaku, melainkan benteng kemanunggalan yang lahir dari keringat, doa, dan pengabdian di sepertiga malam yang dingin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....