Takjil Bubur Kampiun yang menggoda

  • 26 Feb 2026 17:33 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID,Padang - Ramadan tentu menjadi berkah tersendiri bagi pedagang khusunya pedagang takjil. Tempat- tempat takjil akan banyak ditemui menjamur di sudut kota dan daerah. Berburu takjil menjadi hal yang banyak menarik bagi masyarakat bukan hanya untuk masyarakat muslim tetapi juga menarik bagi orang-orang non muslim.

Ada satu takjil yang sangat populer dimasyarakat Ranah Minang yaitu bubur kampiun. Makanan ini adalah makanan yang banyak disukai bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Bubur kampiun menjadi menu wajib, terutama saat berbuka puasa karena rasanya yang manis dan legit. Bubur kampiun adalah campuran beberapa bubur dan makanan, biasanya terdiri dari bubur sum-sum, lupis, ketan hitam, bubur kacang hijau, kolak pisang/ubi dan candil dengan kuah santan .

Dari artikel “ Indonesia kaya” menyebutkan, ternyata istilah bubur kampiun berasal dari kata champion yang berarti juara. Penyebutan itu berdasarkan asal mula munculnya hidangan ini, yaitu Lomba Kreasi Membuat Bubur pada tahun 1960-an di Desa Jambu Air, Banuhampu, Bukittinggi. Sekitar tahun 1960-an, diadakan lomba kreasi membuat bubur. Ada satu amai-amai/ibu-ibu bernama Amai Zona, yang terlambat mengikuti acara. Amai Zona tidak memiliki waktu cukup untuk membuat bubur baru, akhirnya Amai Zona mencampurkan berbagai sisa bubur yang tidak habis dijual di warungnya ke dalam satu mangkuk.

Meskipun awalnya tidak disengaja, campuran berbagai bubur tersebut disukai oleh juri karena rasanya yang gurih, manis, dan kaya tekstur. Saat ditanya nama bubur tersebut, sang nenek Amai Zona spontan menjawab "kampiun" yang artinya juara.

Bubur Kampiun adalah simbol dari kreativitas yang tidak disengaja, yang memadukan berbagai jenis bubur menghasilkan rasa. Bubur kampiun ini terlihat keunikannya dari segi keragaman topingnya. Berbeda dengan bubur pada umumnya, bubur kampiun terbuat dari ketan putih kukus. Lalu, dilengkapi dengan berbagai campuran di atasnya.

Di beberapa daerah di Ranah Minang, hidangan manis ini memiliki variasi campuran yang berbeda, misalnya lupis ketan putih sebagai pengganti nasi ketan atau bubur delima sebagai pengganti bubur conde. Karena teknik pembuatannya cukup rumit, beberapa pedagang memilih untuk tidak menyertakan bubur conde dalam racikannya.

Para pedagang biasanya mulai menyiapkan berbagai campuran sejak dini hari, memasak setiap bahan di panci terpisah. Untuk menghasilkan sajian yang lengkap, setidaknya enam jenis bahan dimasak secara bersamaan di enam tungku berbeda.

Meskipun makanan ini terkesan mempunyai banyak isi di dalamnya, tetapi bubur ini justru menghasilkan rasa yang spesial. Hidangan ini cocok disantap saat berbuka puasa atau pada acara kumpul keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....