Bijak Bermedia Sosial Cegah Perpecahan lewat Konten Religi Berkualitas
- 19 Jul 2026 12:23 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai sarana belajar mengenai ajaran agama. Beragam konten religi kini dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform digital, salah satunya TikTok. Di balik manfaat tersebut, masyarakat juga dihadapkan pada tantangan berupa penyebaran informasi yang belum tentu memiliki dasar keagamaan yang benar. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Putu Sariada, mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menerima informasi keagamaan saat menjadi narasumber program Obrolan SPADA PRO 2 RRI Singaraja beberapa waktu lalu.
Putu Sariada menjelaskan bahwa media sosial memiliki potensi besar sebagai media edukasi apabila dimanfaatkan secara tepat. Kreator konten memiliki tanggung jawab untuk memastikan materi yang disampaikan sesuai dengan sastra agama dan tidak mengandung unsur yang dapat memicu konflik di tengah masyarakat. Penyampaian materi agama juga harus dilakukan dengan bahasa yang santun sehingga mampu memberikan pemahaman tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
"Media sosial dapat menjadi sarana edukasi yang baik selama informasi yang disampaikan memiliki dasar ajaran agama yang benar dan disampaikan secara bijaksana," ujar Putu Sariada.
Dalam diskusi tersebut, ia juga menyoroti fenomena tingginya aktivitas di kolom komentar pada konten-konten religi. Menurutnya, banyak perdebatan justru muncul dari pengguna media sosial yang saling berargumentasi tanpa melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima. Isu keagamaan yang dibalut dengan sudut pandang kontroversial sering kali lebih cepat menarik perhatian publik dibandingkan pembahasan yang bersifat edukatif. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik dan penyuluh agama dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Putu Sariada mendorong agar edukasi agama tidak hanya bergantung pada media digital. Kegiatan pembelajaran secara langsung seperti pasraman, Dharma Tula, maupun forum diskusi keagamaan tetap memiliki peran penting dalam memperkuat pemahaman masyarakat.
"Konten digital perlu didukung dengan kegiatan pembelajaran langsung agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan tidak hanya bergantung pada informasi di media sosial," kata Putu Sariada.
Menurutnya, perpaduan antara edukasi digital dan pembelajaran tatap muka akan menghasilkan proses belajar yang lebih efektif, terutama bagi generasi muda.
Melalui pemanfaatan media sosial yang bijaksana, masyarakat diharapkan mampu menjadikan ruang digital sebagai sarana memperluas wawasan keagamaan, bukan sebagai tempat memperuncing perbedaan. Sikap kritis dalam memverifikasi informasi, menjaga etika saat berkomentar, serta menghargai keberagaman pandangan menjadi kunci agar media sosial benar-benar berfungsi sebagai ruang edukasi yang sehat. Dengan demikian, konten religi tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memperkuat semangat toleransi, persatuan, dan kerukunan di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....