Ini Alasan Mengapa Barong dan Rangda Tidak Pernah Saling Mengalahkan
- 15 Jul 2026 10:33 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Dalam teologi Hindu Bali, Barong dan Rangda diyakini sebagai dua kekuatan yang bersumber dari satu muasal yang sama demi menjaga harmoni semesta. Keduanya merupakan manifestasi kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
Barong adalah manifestasi energi pelindung dan pemelihara semesta (sthiti) yang melambangkan kebajikan (Dharma) dan biasanya diwujudkan dalam figur singa atau babi hutan berbulu lebat. Rangda manifestasi sakti Dewa Siwa dalam fungsi peleburan (pralina) yang melambangkan kekuatan destruktif (Adharma). Diwujudkan dengan wajah menyeramkan, taring tajam, dan lidah menjulur.
Akademisi sekaligus tokoh spiritual Hindu, Prof. Dr. I Wayan Suwendra mengatakan bahwa wujud menyeramkan Rangda adalah simbol kekuatan pelebur kegelapan dan pembersih kekotoran spiritual (mala). Keduanya mengemban fungsi kosmis berbeda untuk saling melengkapi, bukan memusnahkan.
"Tugas kita bukan memusnahkan perbedaan atau hal negatif, melainkan mengendalikan dan menetralisirnya agar tetap berada dalam koridor harmoni," tulis Prof Suwendra melalui pesan singkatnya, Rabu, 15 Juli 2026.
Hal ini diperkuat oleh penjelasan dari tokoh agama, pendiri sekaligus Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas.
"Kenapa Barong dan Rangda dikatakan berasal dari sumber kedewataan yang sama? Karena keduanya dipandang sebagai manifestasi kekuatan ilahi yang menjalankan fungsi berbeda dalam menjaga keseimbangan alam," ujar Ida Bhawati.
Menurut Ida Bhawati Hermawan, pertarungan tanpa pemenang ini membawa pesan filosofis yang mendalam tentang realitas kehidupan yang bersandar pada tiga konsep utama:
Hukum Dualitas Semesta: Berpijak pada ajaran Rwa Bhineda, semesta bergerak karena adanya dua kutub yang saling tarik-menarik, seperti siang-malam, panas-dingin, dan hidup-mati.
Menjinakkan Energi Liar: Sisi negatif (Adharma) tidak bisa dimusnahkan, melainkan harus dikendalikan. Hal ini disimbolkan lewat tradisi ngurek (menikam diri dengan keris tanpa terluka) di akhir pementasan, sebagai tanda nafsu liar yang berhasil dijinakkan oleh kebajikan.
Refleksi Kendali Diri: Barong dan Rangda eksis di dalam diri manusia. Barong adalah akal sehat (Buddhi), sedangkan Rangda mewakili ego dan amarah. Manusia diajarkan untuk berdamai dan mengendalikan kedua sisi tersebut.
Ida Bhawati Hermawan Tangkas memberikan ilustrasi sederhana mengenai pentingnya menjaga tarik-ulur kedua kekuatan ini agar roda dunia tetap berputar.
"Pertarungan sengaja digambarkan tanpa pemenang yang mutlak karena ada makna simboliknya. Bayangkan jika dunia ini siang saja tanpa ada malam, atau hidup semua tanpa ada yang mati? Tentu keseimbangan alam akan terganggu. Jadi itu merupakan gambaran keseimbangan abadi antara dua kekuatan yang selalu berdampingan,” ujar Ida Bhawati.
Di era modern yang kompetitif, filosofi Barong dan Rangda menjadi panduan psikologis yang sangat relevan untuk menjaga kesehatan mental. Tekanan hidup modern sering kali dipicu oleh ekspektasi ekstrem yang memaksa diri untuk selalu sukses dan menolak adanya kegagalan atau kesedihan.
Melalui pemahaman Rwa Bhineda, manusia diajarkan matang secara psikologis. Saat berada di masa kegelapan, seseorang tidak akan mudah putus asa karena tahu cahaya akan datang. Sebaliknya, saat berada di puncak kesuksesan, ia tetap rendah hati karena sadar roda kehidupan terus berputar.
Barong dan Rangda bukan sekadar cerita atau tontonan mistis, melainkan tuntunan psikologis dan benteng spiritual yang adaptif menjawab tantangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....