Menyama Braya, Tradisi yang Merawat Toleransi

  • 07 Jul 2026 12:01 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan di Pulau Dewata, filosofi Menyama Braya tetap menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga harmoni sosial. Nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya dimaknai sebagai hubungan persaudaraan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar belakang.

Secara harfiah, Menyama Braya berasal dari kata nyama yang berarti saudara dan braya yang berarti keluarga atau kerabat. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa setiap manusia adalah bagian dari keluarga besar yang patut dihormati dan diperlakukan dengan baik. Nilai ini menjadi perekat kehidupan masyarakat Bali yang multikultural dan menjadi salah satu alasan kuat terjaganya kerukunan antarumat beragama di daerah tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat Menyama Braya tercermin melalui berbagai tradisi, seperti saling membantu saat pelaksanaan upacara keagamaan, kegiatan sosial, hingga tradisi ngejot, yaitu saling berbagi makanan saat hari besar keagamaan. Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis dan penuh rasa kekeluargaan.

Nilai Menyama Braya juga sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, khususnya pada aspek hubungan harmonis antarsesama manusia (pawongan). Melalui nilai ini, masyarakat diajak untuk mengedepankan toleransi, saling menghargai, serta menyelesaikan perbedaan dengan dialog dan musyawarah sehingga kehidupan bersama tetap damai.

Sejumlah kalangan menilai bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, pelestarian filosofi Menyama Braya menjadi semakin penting. Nilai-nilai kebersamaan, empati, dan gotong royong dinilai mampu memperkuat ketahanan sosial sekaligus menjadi benteng dalam menghadapi berbagai potensi konflik yang muncul akibat perbedaan.

Menyama Braya bukan sekadar warisan budaya Bali, melainkan sebuah cara pandang yang relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Dengan menempatkan semua orang sebagai saudara, tradisi ini terus menjadi inspirasi dalam merawat toleransi, memperkuat persatuan, dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....