SLF Diyakini Dongkrak Pariwisata dan Hunian Hotel di Singaraja

  • 03 Jul 2026 08:55 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Penyelenggaraan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 diyakini tidak hanya menjadi ajang pertemuan para penulis dan pegiat budaya, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian di Kabupaten Buleleng.

Festival sastra yang berlangsung pada 3–5 Juli 2026 itu akan menghadirkan puluhan penulis, filolog, akademisi, dan pegiat budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran peserta dan pengunjung dari luar daerah diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata, tingkat hunian hotel, hingga aktivitas pelaku usaha lokal.

Pendiri Singaraja Literary Festival, Made Adnyana Ole, mengatakan SLF menjadi daya tarik baru yang melengkapi potensi wisata budaya di Singaraja. Menurutnya, festival sastra dapat menjadi alasan tambahan bagi wisatawan untuk berkunjung ke Bali Utara.

"Di samping itu, Singaraja Literary Festival juga akan mempromosikan potensi sastra dan potensi Kota Singaraja sehingga bisa memberikan dampak ekonomi, seperti meningkatkan hunian hotel dan menarik perhatian orang luar Bali ke Singaraja," ujar Ole dalam konferensi pers, Senin 22 Juni 2026.

Penampilan para peserta saat LSF tahun sebelumnya. (Foto: Dok LSF)

Ia menilai pengembangan festival berbasis budaya menjadi strategi untuk memperluas daya tarik pariwisata Buleleng yang selama ini lebih dikenal melalui wisata alam dan bahari. Kehadiran festival sastra diharapkan memperkuat citra Singaraja sebagai kota sejarah, literasi, dan kebudayaan.

SLF 2026 mengangkat tema "Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta" yang terinspirasi dari salah satu lontar koleksi Gedong Kirtya Singaraja. Selama tiga hari pelaksanaan, panitia menyiapkan 42 program yang meliputi panel diskusi, kuliah umum, bedah buku, lokakarya, pameran, pertunjukan seni, hingga ruang temu komunitas.

Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan festival tidak hanya bertujuan menghadirkan ruang apresiasi sastra, tetapi juga menghidupkan kembali Gedong Kirtya sebagai pusat pengetahuan manuskrip Bali.

Menurutnya, kekayaan naskah lontar yang dimiliki Singaraja merupakan modal budaya yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik edukasi dan wisata berbasis literasi. Melalui festival, masyarakat diajak kembali mengenal manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.

Selain menghadirkan tokoh-tokoh sastra nasional seperti Sugi Lanus, Oka Rusmini, Ratih Kumala, JS Khairen, Romo A. Setyo Wibowo, Prof. I Nyoman Darma Putra, I Ketut Eriadi Ariana, dan Sasti Gotama, SLF juga membuka ruang kolaborasi bagi komunitas, seniman, pelajar, hingga pelaku industri kreatif.

Pemerintah Kabupaten Buleleng turut mendukung penyelenggaraan festival sebagai bagian dari penguatan identitas Singaraja sebagai kota bersejarah dan pusat kebudayaan di Bali Utara. Dukungan tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi SLF sebagai agenda budaya tahunan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi pelestarian budaya maupun pengembangan ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....