Dampak Code Switching terhadap Masa Depan Bahasa Indonesia

  • 18 Mei 2026 12:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kebiasaan mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing atau bahasa daerah dalam satu ruang percakapan, atau yang dikenal sebagai code switching, telah menjadi karakteristik komunikasi modern.

Fenomena ini kini telah menyebar luas ke berbagai penjuru daerah, termasuk di Kalimantan Timur. Praktik kebahasaan ini memicu diskusi mendalam di kalangan pemerhati bahasa mengenai dampak jangka panjangnya terhadap eksistensi bahasa Indonesia.

Secara ilmiah, kemampuan seseorang untuk beralih kode dari satu bahasa ke bahasa lain dalam waktu singkat menunjukkan fleksibilitas kognitif yang baik. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan tanpa kontrol dan tidak mengenal ruang serta waktu, maka akan berdampak pada kualitas pemahaman bahasa baku itu sendiri.

Pemenang IV Putra Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Muhammad Zaini Ghoni, membedakan fenomena ini menjadi dua sudut pandang objektif, yaitu dampak positif yang melatih ketangkasan berpikir dan dampak negatif yang mengancam ketajaman berbahasa tunggal.

"Untuk dampak positifnya, bagi kita yang bisa code switching dalam berbahasa itu melatih otak kita untuk tangkas dalam berbahasa. Untuk dampak negatif, karena kebiasaan sering mencampur-campurkan bahasa, akhirnya kemampuan atau keahlian dalam menggunakan satu bahasa dengan baik dan benar itu menjadi kurang tajam lagi," ujarnya dalam program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Senin 18 Mei 2026.

Kekhawatiran mengenai tumpulnya kemampuan berbahasa ini sangat beralasan, mengingat banyak anak muda yang kini mulai gagap atau lupa saat diminta berbicara atau menulis menggunakan bahasa Indonesia yang sepenuhnya baku tanpa menyelipkan istilah asing.

Dampak negatif yang lebih sistematis juga mengintai eksistensi bahasa ibu atau bahasa daerah. Ketika generasi muda lebih bangga mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris daripada dengan bahasa daerahnya sendiri, maka regenerasi penutur bahasa daerah akan terputus.

Sementara itu, Pemenang III Putri Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Afifah Amani, menguraikan kekhawatiran mendalam mengenai ancaman kemiskinan kosakata yang melanda generasi masa kini akibat pola komunikasi yang setengah-setengah. Jika dibiarkan, identitas kebahasaan masyarakat bisa mengalami degradasi yang parah.

"Dan untuk dampak negatifnya kurang lebih sama, yaitu terjadinya erosi bahasa Ibu dan juga kemiskinan kosakata. Karena kan kebiasaan untuk mencampurkan kedua bahasa ini atau code switching, jadi kita tidak terlalu menguasai dari salah satu bahasa. Jadi, bahasa asing setengah, bahasa Indonesia setengah," kata Afifah Amani.

Kondisi ini membuat generasi muda tidak mampu mencapai tahap mahir, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang mereka gunakan. Pada akhirnya, kunci utama dari fenomena code swicthing ini adalah penempatan yang bijaksana, yaitu terampil menggunakan bahasa gaul saat santai, namun tetap prima dan fasih menggunakan bahasa baku dalam situasi formal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....