Fenomena Cepatnya Penyebaran Bahasa Gaul di Kalangan Gen Z

  • 17 Mei 2026 08:16 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi besar dalam cara masyarakat berkomunikasi, terutama di kalangan generasi muda. Fenomena code switching atau pencampuran bahasa Indonesia dengan istilah asing kini menjadi kebiasaan sehari-hari di berbagai platform media sosial.

Kecepatan Gen Z dalam menyerap dan memopulerkan bahasa slang ini sering kali membuat generasi sebelumnya merasa asing dengan dinamika kebahasaan saat ini. Penyebaran bahasa gaul yang sangat masif ini ternyata memiliki latar belakang psikologis dan sosiologis yang kuat bagi para remaja.

Penggunaan kata-kata slang dianggap sebagai instrumen utama untuk membangun kedekatan dan solidaritas di dalam kelompok pertemanan digital mereka. Media sosial seperti TikTok, Twitter, dan Instagram bertindak sebagai katalis utama yang melipatgandakan kecepatan adopsi istilah-istilah baru tersebut.

Dalam program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, Afifah Amani memaparkan pandangannya mengenai pergeseran budaya linguistik yang terjadi pada generasi masa kini. Menurut Pemenang III Putri Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025 tersebut, fenomena ini tidak dapat dilihat dari satu sisi saja.

"Karena bagi generasi muda atau generasi Z ini bukan hanya sekedar tren sesaat, tetapi juga sebagai bentuk adaptasi linguistik. Untuk sebagai sarana untuk menunjukkan identitas sosial sekaligus juga untuk sarana menyampaikan humor dalam interaksi daring," ujar Afifah Amani, dikutip Minggu 17 Mei 2026.

Lebih lanjut, ia menambahkan, kemampuan adaptasi linguistik ini mencerminkan keluwesan Gen Z dalam menyeimbangkan dua arus budaya sekaligus. Mereka mampu menyerap informasi global yang bergerak sangat cepat tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas lokal mereka dalam pergaulan sehari-hari.

Namun, fenomena ini juga memicu pertanyaan mendasar mengenai alasan di balik keengganan sebagian anak muda menggunakan bahasa Indonesia secara penuh saat mengekspresikan emosi. Ada kecenderungan di mana mengekspresikan perasaan lewat bahasa asing terasa lebih alami bagi mereka daripada menggunakan bahasa nasional.

Menanggapi realitas tersebut, Pemenang IV Putra Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Muhammad Zaini Ghoni, mengungkapkan adanya faktor keterbatasan pemahaman kosakata baku di kalangan Gen Z.

"Kenapa mereka mungkin lebih nyaman dengan bahasa asing ketika mengungkapkan perasaannya, mungkin karena di situ kreativitas mereka lebih bisa keluar. Mungkin juga, mereka belum banyak mengetahui atau belajar diksi-diksi indah yang ada di bahasa Indonesia karena mereka merasa terlalu puitis," jelas Muhammad Zaini Ghoni.

Dampak dari pola komunikasi yang terbiasa instan di media sosial ini membuat anak muda melewatkan kesempatan untuk mengeksplorasi kekayaan diksi bahasa Indonesia. Akibatnya, bahasa nasional sering kali dicap terlalu kaku atau formal, padahal bahasa Indonesia memiliki variasi kosakata yang sangat kaya dan tidak kalah ekspresif untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....