Festival Peka 2026 Angkat Seni Ramah Lingkungan
- 27 Mar 2026 10:51 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Festival Peka (Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan) 2026 menghadirkan semangat pelestarian lingkungan melalui pendekatan seni dan budaya. Kegiatan ini dikemas dalam Lokakarya Seniman Pekarangan yang menjadi ruang diskusi sekaligus praktik kreatif bagi masyarakat.
Founder Rumah Budaya Nara Bestari, Hadi Purnomo, mengatakan tema “Seni Ramah Bumi” tidak hanya berbicara tentang bahan karya, tetapi juga cara pandang dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
“Kunang-kunang menjadi simbol penting. Jika masih ada, berarti lingkungan kita masih terjaga,” ujarnya dalam dialog khusus di Pro 1 RRI Jember, Rabu 25 Maret 2026.
| Baca juga: Topeng yang Menemukan Pewaris |
Ia menambahkan, perubahan besar dapat dimulai dari ruang kecil seperti pekarangan rumah. Festival Peka sendiri telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 dengan berbagai kegiatan, mulai dari sarasehan hingga lokakarya bagi anak-anak dan remaja.
Dalam kegiatan tersebut, praktisi seni rupa Bayu Pramudia Wardani mengajak peserta memahami isu lingkungan melalui praktik langsung. Anak-anak diajarkan memanfaatkan bahan daur ulang seperti ranting, daun kering, hingga limbah rumah tangga menjadi karya seni maupun kompos.
“Pendekatan ini membuat mereka lebih sadar lingkungan karena terlibat langsung dalam prosesnya,” katanya.
Sementara itu, praktisi digital art Wisnu Bagus Prabowo memperkenalkan pemanfaatan teknologi dalam seni berbasis alam. Ia mengembangkan konsep pengolahan suara alam secara digital untuk mengedukasi generasi muda.
“Kita ingin anak muda tidak hanya terpapar konten visual di media sosial, tetapi juga memahami nilai alam melalui pendekatan kreatif,” ujarnya.
Di bidang musik, seniman patrol Buiman Handoyo atau Cak Man menyoroti pentingnya pelestarian musik tradisional sebagai identitas Jember. Ia mengembangkan kolaborasi musik patrol dengan alat musik berbahan batu yang disebut Selo Bonang.
Karya tersebut rencananya akan ditampilkan dalam ajang Jember Fashion Carnaval sebagai bentuk inovasi seni berbasis tradisi.
Menurut Hadi, musik tradisional berbahan kayu seperti kentongan memiliki daya tarik global dan bahkan telah menarik perhatian peneliti dari luar negeri.
Melalui Festival Peka 2026, para seniman berharap masyarakat semakin peka terhadap isu krisis ekologi. Mereka menilai seni dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan pelestarian lingkungan.
“Ketika kunang-kunang mulai hilang, itu menjadi alarm bagi kita. Seni hadir untuk menyentuh kesadaran masyarakat agar kembali menjaga bumi,” kata Hadi.
Rangkaian kegiatan ini akan ditutup dengan pameran dan pertunjukan karya hasil lokakarya, yang akan dipresentasikan di ruang-ruang publik dan kawasan konservasi alam di Jember.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....