Topeng yang Menemukan Pewaris
- 03 Jul 2026 20:07 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Lumajang - Kejayaan tidak selalu meninggalkan jejak berupa istana megah atau prasasti yang bertahan berabad-abad. Di Lumajang, kejayaan hidup dalam ingatan yang terus dirawat. Ia hadir melalui tabuhan musik, gerak tari yang diwariskan, dan topeng yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Senja, 28 Juni 2026, Pantai Watu Pecak perlahan dipenuhi ribuan orang. Cahaya matahari yang condong ke barat memantul di permukaan Laut Selatan, sementara angin pesisir membawa aroma asin yang akrab bagi masyarakat setempat. Anak-anak bertengger di pundak orang tuanya agar dapat melihat lebih jelas. Di sisi lain, penonton mengangkat telepon genggam, bersiap mengabadikan momen yang telah lama dinanti.
Semua mata tertuju ke panggung yang menghadap laut.
Petang itu, Segoro Topeng Kaliwungu 2026 kembali digelar. Ratusan penari dari berbagai sekolah dan sanggar tari di Kabupaten Lumajang tampil dalam pertunjukan kolosal yang menghidupkan kisah kejayaan Lamajang. Namun, lebih dari sekadar pertunjukan, panggung itu menjadi ruang tempat sebuah warisan budaya diteruskan kepada generasi berikutnya.
Di balik panggung, suasana jauh lebih hening.
Busana merah berhiaskan emas telah dikenakan rapi. Mahkota terpasang sempurna. Sementara itu, topeng-topeng masih berada dalam genggaman. Belum dikenakan. Belum menjadi bagian dari tarian yang sebentar lagi akan dimulai.
Ketika tabuhan musik pertama menggema, senja perlahan berganti temaram.
Satu demi satu penari memasuki arena. Gerakan mereka menyatu dengan irama, membentuk formasi yang membentang di tepian Laut Selatan. Tepuk tangan penonton pecah ketika ratusan tubuh bergerak serempak, menghadirkan harmoni antara tari, musik, dan kisah tentang kejayaan Lamajang.
Dari bangku penonton, semuanya tampak megah.
Namun, kemegahan itu hanyalah ujung dari perjalanan panjang yang berlangsung berbulan-bulan sebelumnya.
Ada ruang-ruang latihan yang dipenuhi keringat. Ada proses kurasi yang mempertemukan sekitar seribu anak muda dari berbagai sekolah dan sanggar tari. Ada pelatih yang sabar menyempurnakan setiap gerakan. Ada orang tua yang setia mengantar anak-anaknya berlatih setiap akhir pekan.
Semua proses itu bermuara pada satu tujuan: memastikan tradisi tidak berhenti pada satu generasi.
Segoro Topeng Kaliwungu bukan sekadar festival budaya.
Ia adalah cara Lumajang menjaga agar warisan leluhurnya terus hidup melalui tangan-tangan muda yang bersedia mempelajarinya.
Glory yang Terus Menyala
Tahun 2026, Segoro Topeng Kaliwungu mengusung tema "Lamajang The Land of Glory." Tema itu bukan sekadar ajakan mengenang kejayaan masa lampau, melainkan pengingat bahwa sebuah peradaban hanya akan tetap hidup jika terus diwariskan.
Inspirasi pertunjukan ini berangkat dari jejak sejarah Kerajaan Lamajang Tigang Njuru yang menjadi bagian penting perjalanan sejarah Jawa Timur. Sementara itu, Tari Topeng Kaliwungu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, menjadikannya bukan hanya identitas budaya Lumajang, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya nasional.
Melalui tangan para koreografer, seniman, dan pelatih, warisan tersebut tidak berhenti sebagai tontonan. Ia menjadi ruang belajar yang mempertemukan sejarah dengan generasi masa kini.
Karena itulah, ratusan anak dan remaja dilibatkan sebagai penari dalam pertunjukan ini.
Mereka tidak hanya mengisi formasi.
Mereka sedang belajar menjadi penerus sebuah tradisi.
Di antara ratusan wajah muda itu, berdirilah seorang remaja berusia 17 tahun yang untuk pertama kalinya mengenakan kostum Segoro Topeng Kaliwungu.
Namanya Anggun Kirani Ramadhani.
Belajar Mengenakan Sebuah Warisan
Sulit menebak bahwa Anggun Kirani Ramadhani baru sekitar setahun bergabung dengan Sanggar Tari Dewi Songgo Langit. Di atas panggung, gerakannya menyatu dengan ratusan penari lain, tenang dan penuh percaya diri. Tak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menuju panggung itu bermula dari kegemaran seorang anak kecil yang jatuh cinta pada tari.
Siswi kelas XI SMA Negeri 2 Lumajang itu mulai mengenal panggung saat masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Sejak saat itu, menari bukan lagi sekadar hobi, melainkan ruang yang selalu ingin ia datangi. Keinginan untuk belajar lebih serius akhirnya terwujud setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya.
"Saya baru bergabung dengan sanggar sekitar satu tahun karena baru terkumpul niat dan mendapat izin dari orang tua. Tetapi saya memang sudah suka menari sejak kecil. Waktu kelas VIII SMP saya sudah diberi kesempatan tampil," tuturnya.
Keputusan bergabung dengan sanggar menjadi awal dari perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ketika seleksi penari Segoro Topeng Kaliwungu dibuka, Anggun memilih mendaftar. Ia memahami bahwa persaingan tidak mudah. Peserta datang dari berbagai sekolah dan sanggar tari di seluruh Kabupaten Lumajang, masing-masing membawa kemampuan terbaiknya.
Namun, bagi Anggun, kesempatan belajar jauh lebih besar daripada rasa takut gagal.
Seribu Mimpi Menuju Satu Panggung
Hari pengumuman hasil kurasi menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam hidupnya.
Bukan karena proses seleksinya, melainkan karena ia tak cukup berani melihat hasilnya sendiri.
Ia meminta seorang teman membacakan daftar nama peserta yang dinyatakan lolos.
Satu demi satu nama disebutkan.
Beberapa detik terasa berjalan begitu lambat.
Hingga akhirnya terdengar nama yang ia nantikan.
"Saya meminta bantuan teman untuk membacakan apakah nama saya ada atau tidak. Ternyata ada. Saat itu saya benar-benar senang, bangga, dan terharu. Ini pertama kalinya saya mengikuti event yang memang ditunggu-tunggu banyak orang di Lumajang," kenangnya.
Namun, kelulusan itu bukan garis akhir.
Justru saat itulah perjalanan sesungguhnya dimulai.
Belajar Menjadi Harmoni
Setiap Sabtu menjadi waktu latihan kelompok. Hari Minggu dilanjutkan latihan gabungan di Stadion Semeru maupun Alun-alun Lumajang. Dari pagi hingga sore, ratusan penari mengulang gerakan yang sama berkali-kali demi membangun keselarasan.
Bagi penonton, pertunjukan kolosal mungkin hanya berlangsung beberapa puluh menit.
Namun, di balik setiap perpindahan formasi tersimpan berbulan-bulan latihan yang menuntut disiplin, ketelitian, dan kesabaran. Satu langkah yang terlambat dapat mengubah pola. Satu gerakan yang berbeda dapat memengaruhi harmoni ratusan penari lainnya.
Di ruang latihan itulah Anggun belajar bahwa panggung yang megah selalu dibangun oleh proses yang panjang.
Ia belajar mengikuti tempo.
Belajar mendengar aba-aba.
Belajar memberi ruang kepada penari lain.
Dan yang terpenting, belajar bahwa keindahan sebuah pertunjukan lahir ketika setiap orang bersedia menjadi bagian dari satu kesatuan.
Latihan juga mempertemukannya dengan teman-teman baru dari berbagai sekolah dan sanggar tari. Perbedaan asal, usia, dan pengalaman melebur dalam tujuan yang sama: menghadirkan pertunjukan terbaik bagi Lumajang.
"Saya senang bisa bertemu teman-teman baru dan para pelatih yang luar biasa. Itu menjadi pengalaman yang paling berkesan bagi saya," ujarnya.
Bagi Anggun, sanggar tari bukan sekadar tempat belajar koreografi.
Di sanalah ia belajar tentang kerja sama, disiplin, dan arti menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/An-m)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....