Pentingnya Verifikasi Konten Viral melalui Literatur

  • 19 Jul 2026 13:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Jagat media sosial saat ini tengah dibanjiri oleh jutaan konten digital yang diproduksi setiap harinya tanpa melalui proses penyaringan yang ketat. Kondisi ini memicu bahaya laten berupa penyebaran informasi palsu atau hoaks yang sengaja dibuat demi mengejar popularitas digital semata.

Banyak kreator konten yang mengabaikan validitas dan nilai kebenaran informasi demi mendulang keuntungan materi maupun atensi publik. Fenomena kejar tayang demi angka statistik di media sosial ini dinilai sangat membahayakan pola pikir remaja.

Untuk menghadapi ancaman misinformasi tersebut, generasi muda sangat perlu membangun kebiasaan memverifikasi data secara berlapis. Perpustakaan dan buku-buku ilmiah kembali disuarakan sebagai rujukan utama yang memiliki kredibilitas tinggi.

Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Kaltim, Dwi Hariyanto, secara lugas memperingatkan bahaya dari konten-konten media sosial yang mengabaikan etika kebenaran data. Remaja diminta tidak menelan mentah-mentah apa yang lewat di lini masa gawai mereka.

Menurutnya, motif utama di balik pembuatan konten digital saat ini sering kali melenceng dari edukasi ilmiah. Hal inilah yang mendasari pentingnya sikap kritis dan tidak mudah percaya pada tren yang sedang viral.

"Terus terang, dengan dengan era digital saat ini dengan banyak konten yang masuk di media sosial. Tidak 100% konten itu baik dan tidak 100% konten itu benar. Mereka hanya sekadar mencari follower, mencari like, dan mencari engagement. Tidak mementingkan isi, yang penting orang tertarik," ujarnya pada program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Minggu, 19 Juli 2026.

Dwi menambahkan, cara terbaik untuk membentengi diri dari hoaks adalah dengan kembali menghidupkan budaya membaca literatur yang sahih. Buku-buku yang diterbitkan secara resmi melalui proses penyuntingan ketat oleh para pakar merupakan penawar dari racun misinformasi digital.

Masyarakat dan remaja didorong untuk tidak malas melangkahkan kaki ke perpustakaan demi membandingkan informasi. Proses cek silang data (cross-check) menjadi keterampilan wajib di abad digital demi meraih kebenaran informasi yang akurat.

"Kalau pun untuk mencari informasi yang benar, ya kembali lagi ke perpustakaan. Kita cari bukunya, kita cari literaturnya, sehingga tahu apa informasi yang sebenarnya. Jadi kita harus harus mengecek ulang di perpustakaan. Mengecek ulang mencari sumber-sumber lain untuk membandingkan dengan informasi yang kita terima di konten di media sosial," katanya.

Dengan menggalakkan gerakan verifikasi data ke sumber-sumber primer seperti buku di perpustakaan, diharapkan tingkat literasi remaja Kaltim semakin matang. Langkah kritis ini menjadi tameng kokoh dalam memutus rantai penyebaran hoaks di ruang siber.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....