Media Sosial dan Pelajar: antara Ruang Ekspresi dan Haus Validasi

  • 21 Mei 2026 13:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Media sosial pada awalnya hadir sebagai ruang berekspresi bagi masyarakat, termasuk para pelajar. Platform digital memungkinkan siapa saja menyampaikan pendapat, berbagi karya, hingga membangun komunikasi tanpa batas.

Namun, seiring perkembangan zaman, media sosial juga berubah menjadi arena saling serang, saling menghina, bahkan saling menghakimi melalui komentar sarkas dan unggahan provokatif. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap karakter generasi muda.

Di tengah perkembangan teknologi digital, pelajar kini tidak hanya berlomba mengejar prestasi akademik, tetapi juga mengejar popularitas di dunia maya. Banyak remaja merasa ukuran kepintaran bukan lagi nilai rapor, melainkan seberapa viral unggahan mereka di media sosial.

Fenomena flexing, cyberbullying, doxing, hingga penyebaran hoaks semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan penting, apakah media sosial benar-benar mendidik generasi muda menjadi kritis atau justru membentuk generasi yang haus validasi?

Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda, Silviana Purwanti, menilai kebutuhan validasi menjadi alasan utama pelajar aktif di media sosial. “Sekarang batasan itu sudah tidak ada lagi karena semua orang sudah punya alat yang tidak ada filternya, tidak ada penjaganya,” ujarnya, dikutip Kamis 21 Mei 2026.

Menurutnya, media sosial menjadi arena baru bagi masyarakat untuk mencari pengakuan tanpa adanya penyaring informasi yang memadai. “Kamu bermedia sosial maka kamu ada,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana eksistensi seseorang saat ini sering diukur dari aktivitas digitalnya. Banyak pelajar merasa harus terus aktif mengunggah konten agar dianggap mengikuti tren. Akibatnya, sebagian remaja lebih fokus membangun citra digital dibandingkan membangun kualitas diri dan kemampuan akademik.

Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Samarinda, Silviana Purwanti, saat dialog bersama RRI. (Foto: Tangkapan layar youtube RRI Samarinda)

Meski demikian, media sosial tidak selalu berdampak buruk. Platform digital tetap memiliki manfaat besar apabila digunakan secara bijak. “Penting karena mereka tidak ketinggalan informasi, tetapi perlu digarisbawahi informasi yang seperti apa,” ucapnya.

Ia menilai, pelajar perlu memiliki kemampuan memilah informasi yang bermanfaat dan menghindari konten negatif yang dapat merusak pola pikir maupun perilaku mereka.

Masalah lain yang kini marak terjadi adalah penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Tidak hanya di media sosial terbuka, penyebaran informasi palsu juga sering terjadi di grup percakapan keluarga. “Grup WhatsApp keluarga itu adalah salah satu media penyebar hoaks,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan literasi digital tidak hanya penting bagi pelajar, tetapi juga seluruh masyarakat agar mampu melakukan cek dan ricek sebelum menyebarkan informasi.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap fenomena tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman aktif mengadakan edukasi literasi digital ke sekolah-sekolah. Kegiatan tersebut bertujuan agar pelajar tidak terlibat dalam penyebaran berita palsu maupun ujaran kebencian.

“Kami mencoba literasi digital ke SMA untuk membicarakan bagaimana pelajar jangan ikut terlibat dalam penyebaran berita palsu,” katanya. Edukasi seperti ini menjadi langkah penting untuk menciptakan generasi muda yang lebih cerdas dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif tergantung cara penggunanya. Pelajar perlu memahami bahwa validasi digital bukanlah ukuran utama kesuksesan. Prestasi, etika, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian sosial tetap menjadi nilai penting dalam kehidupan nyata.

Dengan literasi digital yang baik, generasi muda diharapkan mampu menjadikan media sosial sebagai sarana edukasi, kreativitas, dan pengembangan diri, bukan sekadar tempat mencari pengakuan semata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....