Tips Mengembalikan Jam Tidur Anak

  • 12 Jul 2026 14:17 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Memasuki masa akhir libur panjang, banyak orang tua menghadapi tantangan saat anak sulit bangun pagi akibat perubahan pola tidur yang tidak teratur. Mengembalikan ritme sirkadian atau jam biologis anak memerlukan strategi bertahap agar mereka dapat kembali disiplin menjalani rutinitas sekolah dengan kondisi fisik yang tetap bugar.

American Academy of Sleep Medicine (AASM), menekankan pentingnya metode pergeseran bertahap untuk menyesuaikan kembali waktu istirahat anak. Orang tua disarankan untuk memajukan jam tidur malam dan jam bangun pagi secara sinkron sebesar 15 menit setiap harinya secara konsisten. Langkah ini jauh lebih efektif dibandingkan memaksa anak tidur lebih awal secara drastis, yang justru berisiko memicu penolakan dan rasa rewel pada anak.

Menurut publikasi klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pengaturan waktu tidur yang ideal bagi anak usia sekolah adalah sebelum pukul 21.00 malam. Tidur pada jam tersebut sangat krusial untuk menjaga kestabilan ritme tubuh serta memastikan pelepasan hormon pertumbuhan atau 'growth hormone' berlangsung secara optimal sepanjang malam. Konsistensi dalam menjaga jadwal ini akan membantu anak memiliki kualitas tidur yang lebih baik saat harus bangun pagi.

Selain mengatur jadwal, pembatasan penggunaan perangkat elektronik menjadi faktor penentu kualitas istirahat anak di malam hari. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyatakan bahwa paparan cahaya biru dari layar gawai dapat menurunkan sekresi hormon melatonin atau hormon pengantar tidur secara signifikan. Oleh karena itu, penggunaan layar rekreasi harus dihentikan total minimal 60 menit sebelum anak mematikan lampu kamar.

Pengondisian lingkungan kamar dan aktivitas fisik di siang hari juga memberikan dampak besar terhadap keberhasilan penyesuaian jam tidur. Anak disarankan mendapatkan aktivitas fisik di bawah sinar matahari pagi dan membatasi durasi tidur siang agar dorongan tidur atau 'sleep drive' di malam hari tetap terjaga. Kondisi kamar yang gelap murni tanpa cahaya lampu utama pun terbukti mampu meningkatkan kenyamanan sensorik anak saat beristirahat.

Sebagai panduan bagi orang tua, konsensus dari AASM menetapkan kebutuhan durasi tidur yang berbeda sesuai dengan kelompok usia anak. Anak usia prasekolah memerlukan waktu istirahat 10 hingga 13 jam, sementara anak usia sekolah dasar disarankan untuk tidur selama 9 hingga 12 jam setiap malam. Pemenuhan durasi tidur tersebut sangat berpengaruh langsung terhadap fungsi kognitif dan kemampuan memori anak dalam menyerap materi pelajaran di sekolah.

Penerapan pola disiplin tidur yang konsisten menjelang masuk sekolah akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesehatan anak. Dengan mengikuti panduan dari IDAI dan AASM, diharapkan orang tua dapat mendampingi proses transisi anak secara damai tanpa tekanan emosional. Persiapan yang matang sejak dini akan memastikan anak lebih siap secara fisik dan mental saat menghadapi hari pertama masuk sekolah kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....