Hijrah Digital Lawan Budaya Flexing
- 11 Jul 2026 15:51 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Budaya pamer atau flexing di media sosial menjadi salah satu kebiasaan yang perlu ditinggalkan dalam semangat hijrah di era digital. Perubahan perilaku tersebut dinilai penting, agar media sosial menjadi ruang untuk berbagi manfaat.
Pesan itu disampaikan Ustaz Agus Suwarto Edi saat mengisi tausiyah di program Hikmah Pagi RRI Pro4 Samarinda. Hijrah masa kini harus dimaknai sebagai perubahan sikap dan karakter seseorang
| Baca juga: Tradisi Pawai Obor Sambut Tahun Baru Islam |
Banyak orang memahami hijrah hanya sebatas perubahan pakaian atau atribut keagamaan. Padahal, makna hijrah jauh lebih luas, yakni meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah Swt dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik.
"Kalau hijrah hanya berhenti pada casing atau kulit luar saja, berarti kita mempersempit makna besar hijrah itu sendiri," ujarnya, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Dalam konteks media sosial, hijrah diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan memamerkan ibadah atau pencapaian pribadi yang berpotensi menumbuhkan rasa riya. Sebaliknya, umat Islam diajak memperbanyak sikap rendah hati atau tawadhu dalam setiap aktivitas.
"Berjiwa hijrah berarti bermigrasi dari budaya flexing menuju budaya tawadhu, dari scrolling tanpa arah menuju pencarian ilmu," katanya. Perubahan kecil dalam kebiasaan menggunakan media sosial dapat menjadi langkah awal membangun karakter muslim yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....