Memaafkan dalam Buddhisme, Jalan Mengakhiri Kebencian dan Meraih Kedamaian Batin
- 03 Jun 2026 11:52 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Sikap memaafkan merupakan salah satu ajaran penting dalam agama Buddha yang dapat membantu manusia melepaskan diri dari penderitaan batin. Hal tersebut disampaikan narasumber Ni Made Dhami Astri dalam program Mimbar Agama Buddha PRO 1 RRI Malang dengan tema “Memaafkan dalam Agama Buddha”.
Ni Made Dhami Astri menjelaskan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan sepenuhnya peristiwa yang menyakitkan, melainkan melepaskan kebencian yang selama ini tersimpan di dalam hati. Menurutnya, kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian yang sama.
Ia mengutip ajaran Sang Buddha dalam Dhammapada ayat 5 yang berbunyi, “Kebencian tidak pernah berakhir dengan kebencian. Kebencian berakhir dengan tidak membalas kebencian (cinta kasih). Inilah hukum yang abadi.” Ajaran tersebut menegaskan bahwa permusuhan hanya dapat dihentikan melalui kasih sayang dan sikap tanpa kebencian.
| Baca juga: Hari Kedua saat Langit Membuka Pintu Ampunan |
“Ketika kita mendengar ucapan yang tidak menyenangkan atau menerima perlakuan yang membuat sakit hati, kita tidak perlu membalasnya dengan kata-kata yang menyakitkan pula. Karena ketika kita membalas kebencian, lingkaran penderitaan itu akan terus berlanjut,” ujar Ni Made Dhami Astri, Selasa (2/6/2026).
Dalam pandangan Buddhis, lanjutnya, seseorang diajak untuk merenungkan pengalaman hidup dengan kesadaran penuh. Ketika muncul rasa marah, jengkel, atau kecewa, umat Buddha diajarkan untuk melihatnya sebagai bagian dari proses kehidupan dan memahami bahwa segala sesuatu yang dialami merupakan buah dari sebab-akibat atau karma yang pernah dilakukan.
“Kalau kita terus memelihara rasa sakit hati, sama saja kita memelihara penyakit dalam diri kita sendiri. Setiap kali mengingat orang yang kita benci, kita kembali menderita. Karena itu, kebencian perlu dilepaskan agar kita dapat hidup lebih damai dan bahagia,” katanya.
Ni Made Dhami Astri menambahkan bahwa salah satu cara mengurangi kebencian adalah dengan mengembangkan cinta kasih atau metta. Ketika mendengar ucapan yang tidak sesuai dengan hati dan pikiran, seseorang cukup menyadari ketidaksukaannya tanpa harus bereaksi secara negatif. Bahkan jika perlu, menjauh dari sumber konflik agar tidak terus-menerus menambah penderitaan batin.
Menurutnya, tujuan hidup manusia adalah menciptakan kebahagiaan. Karena itu, seseorang hendaknya lebih banyak mendekat kepada hal-hal yang membawa ketenangan, kebijaksanaan, dan kedamaian daripada terus terjebak dalam rasa dendam.
“Dengan memaafkan, kita sebenarnya sedang membebaskan diri sendiri dari penderitaan batin. Saat kebencian berkurang, maka senyum, kebahagiaan, dan kedamaian akan lebih mudah hadir dalam kehidupan kita,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....