Haji Mabrur Menjadi Jalan Tertinggi menuju Ma’rifatullah Sejati

  • 23 Mei 2026 11:40 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Haji mabrur bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan batin menuju pengenalan diri kepada Allah SWT. Dalam pandangan tasawuf, setiap rangkaian ibadah haji menyimpan makna penyucian hati, pelepasan ego, dan penghambaan total kepada Sang Pencipta. Karena itu, haji mabrur disebut sebagai puncak ma’rifat, yakni keadaan ketika seorang hamba semakin dekat dengan Allah melalui kesadaran ruhani yang mendalam.

Pemahaman tersebut disampaikan Ustaz Dedi N Abdullah Tillu dalam program Cahyaning Ati di Pro4 RRI Malang, Sabtu (23/5/2026). Dalam kajian bertema “Haji Mabrur sebagai Puncak Ma’rifat”, ia mengajak umat Islam memaknai ibadah haji tidak hanya sebagai ritual lahiriah, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual yang membentuk hati dan akhlak manusia.

Menurutnya, saat ini umat Islam telah memasuki 6 Dzulhijjah, menjelang Hari Tarwiyah dan Hari Arafah yang menjadi momentum penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Ia mengingatkan masyarakat Muslim yang tidak sedang berhaji untuk memperbanyak amal saleh, termasuk menjalankan puasa Tarwiyah dan puasa Arafah yang tahun ini bertepatan pada Senin, 26 Mei 2026.

Ustaz Dedi menjelaskan bahwa wukuf di Padang Arafah merupakan rukun terpenting dalam ibadah haji. Momentum tersebut menjadi simbol pertemuan batin manusia dengan Allah SWT melalui pengakuan dosa, penyucian hati, dan ketundukan total di hadapan-Nya.

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 158, ia menjelaskan bahwa thawaf, sa’i, dan wukuf bukan hanya gerakan ibadah semata, tetapi perjalanan ruhani menuju ma’rifatullah. Ia juga mengutip pandangan sufi agung Jalaluddin Rumi yang menyebut thawaf bertujuan membebaskan hati manusia dari belenggu ego dan kecintaan duniawi.

Menurutnya, posisi Ka’bah yang berada di sebelah kiri saat thawaf memiliki simbol bahwa hati manusia selalu dekat dengan Baitullah dan senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Tujuh putaran thawaf, lanjutnya, menggambarkan pusaran kehidupan manusia yang seluruhnya berasal dari kehendak Allah.

“Thawaf harus dilakukan dalam keadaan suci sebagaimana shalat. Jika batal sebelum tujuh putaran selesai, maka harus kembali bersuci sebelum melanjutkan thawaf,” jelasnya.

Dari sudut pandang tasawuf, gerakan mengelilingi Ka’bah menjadi simbol bahwa hati manusia semestinya terus bergerak mendekati Allah dan menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui segala isi hati manusia.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Dedi juga menyampaikan kisah ulama sufi Abdul Qadir al-Jailani mengenai makna ihram. Ia menjelaskan bahwa pakaian ihram tanpa jahitan melambangkan pelepasan kesombongan, pangkat, dan kemewahan dunia.

“Orang yang mampu memaknai ihram dengan benar akan melahirkan pribadi yang sejuk, lembut dalam perilaku, serta menghadirkan tutur kata yang menenangkan layaknya suasana surga,” ujarnya.

Selain thawaf, ia turut menyoroti makna sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah yang meneladani perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail AS. Menurutnya, ibadah sa’i mengajarkan bahwa mengenal Allah tidak cukup hanya dengan diam dan berharap, tetapi harus disertai usaha, perjuangan, dan kesungguhan.

“Surga itu mahal, maka jalan menuju Allah harus ditempuh dengan ikhtiar dan kesabaran,” ungkapnya mengakhiri dialog. (Mey)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....