Surau Lubuk Bauk, Warisan Sejarah Minangkabau yang Tetap Kokoh Melintasi Zaman

  • 18 Mei 2026 23:07 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi bangunan, Surau Lubuk Bauk di Kecamatan Batipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, masih berdiri megah mempertahankan warisan sejarah Minangkabau. Bangunan tua yang juga dikenal sebagai Masjid Lubuk Bauk ini menjadi saksi perjalanan panjang budaya dan pendidikan Islam di Ranah Minang.

Surau berusia ratusan tahun tersebut mulai dibangun pada tahun 1896 dan selesai pada 1901. Nama “Lubuk Bauk” sendiri diambil dari kawasan tempat bangunan itu berdiri, yang sejak dahulu dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.

Berada tepat di samping Masjid Al-Ula, Surau Lubuk Bauk mudah ditemukan karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Hingga kini, tempat tersebut masih ramai dikunjungi masyarakat maupun wisatawan yang ingin melihat langsung keunikan arsitektur tradisional Minangkabau.

Dari sisi bangunan, surau ini memiliki bentuk bujur sangkar dengan luas sekitar 154 meter persegi dan tinggi mencapai 13 meter. Keunikan utama terlihat pada 30 tiang kayu surian berbentuk segi delapan yang menopang bangunan. Seluruh tiang dirangkai menggunakan sistem pasak tradisional tanpa paku, sebuah teknik khas arsitektur Minangkabau tempo dulu.

Tidak hanya itu, bangunan surau juga berdiri di atas kolong setinggi sekitar 1,4 meter dari permukaan tanah. Bagian kolong dihiasi ukiran bermotif sulur-suluran yang memperlihatkan tingginya nilai seni masyarakat Minangkabau pada masa lampau.

Surau Lubuk Bauk juga menyimpan jejak sejarah penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Sumatera Barat. Pada sekitar tahun 1926, ulama besar Buya Hamka pernah belajar agama di surau ini kepada Syekh Harun Thoh. Tokoh agama tersebut kemudian dimakamkan tidak jauh dari lokasi surau pada tahun 1959.

Bangunan ini merupakan surau kaum milik Suku Jambak yang berdiri di atas tanah wakaf pemberian Datuk Bandaro Panjang. Kini, Surau Lubuk Bauk telah ditetapkan sebagai cagar budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Tanah Datar.

Juru pelihara Surau Lubuk Bauk, Armi Destari, mengatakan, hingga saat ini sebagian besar bangunan masih mempertahankan material aslinya. “Bangunan ini hampir semuanya masih asli, hanya bagian loteng yang sudah pernah diganti. Kayu yang dipakai dulu direndam selama lima tahun sebelum digunakan, jadi kekuatannya memang luar biasa,” ujarnya.

Ketangguhan bangunan tradisional ini juga terbukti saat gempa besar mengguncang Sumatera Barat pada tahun 2009. Menurut Armi, surau hanya bergoyang tanpa mengalami kerusakan berarti.

“Waktu gempa besar 2009, bangunan ini hanya berayun saja, tapi tidak roboh. Itu menunjukkan kalau arsitektur tradisional Minangkabau memang dirancang sangat kuat,” katanya. Surau Lubuk Bauk kini menjadi simbol ketahanan budaya dan bukti bahwa warisan leluhur Minangkabau tetap mampu bertahan melintasi zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....