Memaknai Rasa Syukur dan Kebahagiaan

  • 30 Apr 2026 13:32 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Di era media sosial saat ini, standar kebahagiaan seseorang sering kali dinilai dari apa yang mereka tampilkan di layar ponsel. Kepemilikan barang mewah dan popularitas dianggap sebagai syarat sukses dan bahagia. Namun, realitanya tidak selalu seindah unggahan di internet.

Ustaz Eko Prio Agus Nugroho dalam program Hikmah Pagi, menyoroti fenomena ini sebagai salah satu sumber kegelisahan masyarakat. Ia melihat banyak orang yang merasa kurang meskipun sudah memiliki segalanya secara fisik.

"Banyak orang yang memiliki kebahagiaan karena harta, jabatan, atau popularitas, tapi hatinya tidak tenang," kata Ustaz Eko kepada RRI Pro4 Samarinda, dikutip Kamis 30 April 2026.

Menurutnya, kesalahan terbesar adalah mencari kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat sementara seperti harta dan popularitas. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, rasa kecewa dan stres akan mudah muncul.

Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal ini adalah dengan kembali pada nilai-nilai agama. ‘’Membaca Al-Qur'an dan merenungkan maknanya, dapat memberikan ketenangan dalam hati kita. Menjadi petunjuk bagi manusia untuk selalu melakukan perbuatan baik,’’ ujar Ustaz Eko.

Selain itu, pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain atau khairunnas anfa'uhum linnas. Dengan berbagi dan peduli pada sesama, seseorang akan merasakan kepuasan batin yang jauh lebih besar.

Ustadz Eko mengajak masyarakat untuk berhenti membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain. Kebahagiaan dimulai saat seseorang mampu bersyukur, sembari menjaga hubungan baik dengan Tuhan.

Bahagia bukan tentang seberapa banyak yang kita dapatkan, tapi seberapa tenang hati kita dalam menerima takdir. Dengan hati yang dekat pada Allah, kesederhanaan bisa menjadi kebahagiaan yang luar biasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....