KKN UGM Siapkan Masyarakat Jadi Pelaku Utama Pembangunan IKN

  • 18 Jul 2026 11:11 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya menghadirkan transformasi fisik melalui pembangunan gedung pemerintahan dan infrastruktur modern, tetapi juga membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, diperlukan penguatan kapasitas dan kemandirian sehingga mampu berperan sebagai pelaku utama dalam pembangunan yang sedang berlangsung.

Hal tersebut dibahas dalam dialog Suara Nusantara Pro 1 RRI Samarinda yang mengangkat tema "Penguatan Kemandirian Sosial Ekonomi Masyarakat dalam Merespons Pembangunan Ibu Kota Nusantara". Dialog menghadirkan Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) KKN-PPM UGM Pelita Nusantara Christian Perdana Putra Malau, Ketua Pelaksana Festival Senandika Nusantara Naufal Bhanoe, serta Tim Humas dan Publikasi KKN-PPM UGM Pelita Nusantara Rajen Arya.

Koordinator Mahasiswa Unit KKN-PPM UGM Pelita Nusantara, Christian Perdana Putra Malau, menjelaskan bahwa tema besar yang diusung timnya lahir dari kebutuhan untuk memastikan masyarakat sekitar IKN mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan identitas dan potensi lokal yang dimiliki. Menurutnya, pembangunan kawasan baru harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

"Kami ingin masyarakat di sekitar IKN tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama dalam proses pembangunan. Karena itu, kami hadir melalui pendidikan, penguatan ekonomi lokal, penerapan teknologi, hingga peningkatan kapasitas desa agar masyarakat mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan," ujar Christian.

Selama menjalankan pengabdian di Kecamatan Sepaku sejak 21 Juni hingga 8 Agustus 2026, tim KKN-PPM UGM Pelita Nusantara melaksanakan berbagai program di tiga desa, yakni Wonosari, Bukit Raya, dan Sukaraja. Program tersebut meliputi bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, infrastruktur, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat yang disusun berdasarkan hasil observasi dan kebutuhan masing-masing desa.

Christian menambahkan, seluruh program dirancang agar tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Mahasiswa memberikan pelatihan, pendampingan, hingga transfer pengetahuan sehingga masyarakat dapat melanjutkan berbagai program secara mandiri setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Senandika Nusantara, Naufal Bhanoe, menjelaskan bahwa Festival Senandika Nusantara menjadi puncak rangkaian program pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan selama masa pengabdian. Festival tersebut menggabungkan unsur budaya, ekonomi kreatif, olahraga, digitalisasi, dan pemberdayaan UMKM sebagai ruang kolaborasi berbagai pihak.

"Festival Senandika Nusantara bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi ruang pemberdayaan masyarakat melalui pameran UMKM, promosi budaya lokal, lomba kreativitas, expo pendidikan, hingga kegiatan yang mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat di kawasan IKN," kata Naufal.

Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 1–2 Agustus 2026 tersebut akan digelar di Plaza Seremoni Otorita IKN dan Desa Bukit Raya. Kegiatan melibatkan pemerintah, komunitas, organisasi kepemudaan, sponsor, hingga masyarakat umum, dengan harapan mampu memperkuat jejaring kolaborasi dalam mendukung pembangunan kawasan IKN sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Di sisi lain, Tim Humas dan Publikasi KKN-PPM UGM Pelita Nusantara, Rajen Arya, menilai publikasi menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kondisi nyata masyarakat di sekitar IKN kepada publik nasional. Menurutnya, berbagai kegiatan mahasiswa didokumentasikan melalui media sosial, artikel, hingga kerja sama dengan sejumlah media agar semakin banyak pihak yang terdorong ikut berkontribusi.

"Daripada hanya memperdebatkan pembangunan IKN, lebih baik kita menghadirkan aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Kalau belum bisa membangun IKN secara langsung, mari bersama-sama membangun masyarakatnya, menghidupkan ekonominya, dan memperkuat kolaborasi berbagai pihak," ucap Rajen.

Selain menjalankan program pemberdayaan, tim KKN juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, media, maupun dunia usaha yang ingin mendukung berbagai kegiatan di kawasan IKN. Mereka meyakini pembangunan yang inklusif hanya dapat terwujud apabila seluruh elemen masyarakat terlibat secara aktif.

Melalui semangat "Bersinergi Bersama untuk Nusantara", KKN-PPM UGM Pelita Nusantara berharap seluruh program yang dijalankan dapat menjadi fondasi bagi lahirnya masyarakat yang mandiri, adaptif, dan siap menghadapi berbagai perubahan akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara. Dengan demikian, pembangunan IKN tidak hanya menghadirkan kota modern, tetapi juga menciptakan masyarakat yang berdaya, sejahtera, dan mampu tumbuh bersama perubahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....