Pemulihan Psikososial Penyintas Bencana Penting Bangun Ketahanan Mental

  • 17 Jul 2026 07:02 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Penanganan bencana tidak berhenti pada proses evakuasi korban maupun penyaluran bantuan logistik. Di balik kerusakan fisik yang tampak, terdapat dampak lain yang tak kalah penting, yakni trauma psikologis yang dialami para penyintas. Karena itu, pemulihan kesehatan mental menjadi bagian yang harus berjalan seiring dengan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Hal tersebut disampaikan Dosen Geografi Universitas Negeri Malang, Dr. Heni Masruroh, M.Sc., dalam dialog SPADA Tanggap Bencana di Pro 2 RRI Malang, Rabu (15/07/2026). Menurutnya, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari cepatnya pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan para penyintas untuk pulih secara mental dan kembali menjalani kehidupan secara normal.

"Trauma yang dialami masyarakat terdampak bencana harus mendapat perhatian serius. Dalam tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi, pemulihan psikososial merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan. Masyarakat membutuhkan ruang untuk memulihkan rasa aman, mengurangi ketakutan, dan membangun kembali semangat menjalani kehidupan," ujar Heni.

Ia menjelaskan bahwa trauma dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama, terutama bagi korban yang mengalami langsung peristiwa bencana. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena belum memiliki kemampuan mengelola pengalaman traumatis seperti orang dewasa.

Menurut Heni, tanpa pendampingan yang tepat, trauma dapat memengaruhi perkembangan emosional, kemampuan belajar, hingga interaksi sosial anak dalam jangka panjang. Oleh karena itu, layanan psikososial perlu diberikan sejak masa tanggap darurat hingga proses pemulihan selesai.

"Anak-anak sering kali belum mampu mengungkapkan rasa takut yang mereka alami. Karena itu, pendampingan dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, seperti bermain, menggambar, bercerita, atau kegiatan edukatif lainnya. Aktivitas tersebut membantu mereka mengekspresikan emosi sekaligus mengurangi tekanan psikologis setelah mengalami bencana," jelasnya.

Dalam praktiknya, relawan dan tenaga pendamping biasanya menyediakan berbagai media bermain seperti boneka, permainan edukatif, buku gambar, hingga kegiatan kelompok yang bertujuan mengembalikan rasa nyaman anak-anak di tengah situasi darurat. Selain mengurangi kecemasan, kegiatan tersebut juga membantu mereka kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Sementara itu, pendampingan bagi orang dewasa dilakukan melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing penyintas. Sebagian membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman, sementara yang lain memerlukan konseling atau dukungan sosial agar mampu menerima kondisi yang dihadapi dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Setiap penyintas memiliki pengalaman dan respons yang berbeda terhadap bencana. Karena itu, pendampingan psikososial tidak bisa disamaratakan. Yang terpenting adalah memastikan mereka tidak menghadapi masa pemulihan sendirian dan mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya," kata Heni.

Ia menegaskan, pemulihan pascabencana harus dipahami sebagai proses yang menyeluruh. Selain membangun kembali rumah, jalan, sekolah, dan fasilitas umum yang rusak, pemerintah dan berbagai pihak juga perlu memastikan kesehatan mental masyarakat ikut pulih sehingga mereka dapat bangkit dengan lebih tangguh menghadapi kehidupan setelah bencana.

"Tujuan akhir rehabilitasi bukan sekadar membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga mengembalikan rasa aman, kepercayaan diri, dan harapan masyarakat. Ketika kondisi psikologis penyintas pulih, mereka akan lebih siap bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....