Sulit Berhenti Merokok? Ini Cara Mengatasi Adiksi Nikotin

  • 15 Jun 2026 13:11 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Kebiasaan merokok masih menjadi tantangan kesehatan yang dihadapi banyak masyarakat Indonesia. Tidak sedikit perokok yang sebenarnya memiliki keinginan untuk berhenti, namun mengalami kesulitan karena ketergantungan terhadap nikotin yang terkandung dalam rokok. Kondisi ini bukan sekadar persoalan kemauan, melainkan berkaitan dengan perubahan biologis yang terjadi di dalam otak akibat paparan nikotin secara terus-menerus. Karena itu, upaya berhenti merokok memerlukan pemahaman yang tepat mengenai adiksi nikotin serta strategi yang terencana.

Psikiater dari RS Radjiman Wediodiningrat Lawang, dr. Miftakhul Huda, Sp.KJ, menjelaskan bahwa nikotin merupakan zat adiktif yang dapat memengaruhi sistem penghargaan (reward system) di otak. Ketika seseorang merokok, nikotin akan memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan perasaan nyaman dan rileks. Seiring waktu, otak akan terbiasa dengan kondisi tersebut sehingga muncul keinginan untuk terus mengonsumsi nikotin. “Adiksi nikotin bukan hanya kebiasaan, tetapi sudah menjadi ketergantungan yang melibatkan perubahan fungsi otak. Karena itu, banyak perokok merasa sulit berhenti meskipun mereka memahami risiko kesehatannya,” ujar dr. Miftakhul Huda kepada RRI Malang pada Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan untuk berhenti merokok adalah membangun motivasi yang kuat dari dalam diri. Seseorang perlu memiliki alasan yang jelas mengapa ingin berhenti, baik karena alasan kesehatan, keluarga, maupun kualitas hidup yang lebih baik. Motivasi tersebut penting untuk membantu individu bertahan ketika muncul gejala putus nikotin, seperti mudah marah, gelisah, sulit berkonsentrasi, hingga keinginan kuat untuk kembali merokok. “Kesadaran pribadi menjadi fondasi utama. Jika seseorang memiliki tujuan yang jelas dan komitmen yang kuat, peluang untuk berhasil berhenti merokok akan jauh lebih besar,” katanya.

Selain motivasi internal, dukungan dari lingkungan sekitar juga berperan penting dalam proses pemulihan dari adiksi nikotin. Keluarga, teman, dan rekan kerja dapat membantu dengan memberikan semangat serta menciptakan lingkungan yang bebas dari paparan rokok. Menghindari situasi yang biasanya memicu keinginan merokok, seperti berkumpul dengan sesama perokok atau mengonsumsi kopi pada waktu tertentu, juga dapat menjadi strategi yang efektif. “Dukungan sosial sangat penting karena proses berhenti merokok sering kali tidak mudah. Kehadiran orang-orang terdekat dapat membantu seseorang tetap konsisten dengan target yang telah ditetapkan,” jelasnya.

Dr. Miftakhul Huda menambahkan bahwa beberapa perokok dengan tingkat ketergantungan yang tinggi mungkin memerlukan bantuan profesional. Pendekatan medis maupun psikologis dapat diberikan untuk membantu mengatasi gejala putus nikotin dan mengelola keinginan merokok yang muncul kembali. Konseling, terapi perilaku, hingga terapi pengganti nikotin dapat menjadi pilihan sesuai kondisi masing-masing individu. Penanganan yang tepat akan meningkatkan peluang keberhasilan dalam menghentikan kebiasaan merokok secara permanen.

Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa adiksi nikotin merupakan masalah kesehatan yang dapat ditangani dengan pendekatan yang tepat. Berhenti merokok bukan proses yang instan, tetapi setiap langkah kecil menuju hidup tanpa rokok akan memberikan manfaat besar bagi kesehatan fisik maupun mental. “Jangan takut untuk mencoba berhenti meskipun pernah gagal sebelumnya. Banyak orang membutuhkan beberapa kali percobaan sebelum akhirnya berhasil. Yang terpenting adalah terus berusaha dan mencari bantuan ketika diperlukan,” pungkas dr. Miftakhul Huda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....