Unesco Soroti Kesiapsiagaan Nagari Ampiang Parak

  • 16 Jul 2026 10:18 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran 2006 diperingati melalui webinar nasional yang digelar pada Kamis, 16 Juli 2026. Dari Kabupaten Pesisir Selatan, kegiatan dipusatkan di Pusat Edukasi Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Ampiang Parak dan diikuti unsur pemerintah serta komunitas siaga bencana.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana BPBD Pesisir Selatan Armen, Kepala Dinas Kominfo Pesisir Selatan Wendi, Camat Sutera, Wali Nagari Ampiang Parak beserta perangkat nagari, serta Ketua LPPL Ampiang Parak Haridman bersama anggota kelompok siaga bencana.

Dalam webinar tersebut disampaikan bahwa terdapat tujuh desa dan komunitas di Indonesia yang menjadi pionir Desa Tangguh Bencana binaan Unesco. Dari jumlah itu, lima berada di Pulau Sumatera dan dua lainnya di Pulau Jawa, termasuk Nagari Ampiang Parak di Kabupaten Pesisir Selatan.

Perwakilan Unesco, Engin Koncagul, menyampaikan ketujuh desa dan komunitas tersebut dipilih karena memiliki respons cepat serta komitmen yang kuat dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Webinar juga menghadirkan ahli kebumian dari ITB, Dr. Pepen Supendi, yang memaparkan sejarah gempa dan tsunami di Indonesia, mekanisme terjadinya gempa megathrust, serta potensi ancaman yang masih perlu diwaspadai masyarakat, terutama di wilayah pesisir barat Sumatera.

Ketua LPPL Ampiang Parak, Haridman, mengatakan pihaknya bersama BPBD, pemerintah daerah, pemerintah nagari, dan berbagai instansi terkait terus melakukan edukasi kepada masyarakat sebagai upaya membangun budaya sadar bencana. "Komitmen kami adalah memastikan masyarakat memahami langkah-langkah penyelamatan ketika terjadi gempa maupun tsunami. Edukasi harus terus dilakukan agar kesiapsiagaan menjadi budaya masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, upaya tersebut sangat penting mengingat Kabupaten Pesisir Selatan berada di kawasan yang berhadapan langsung dengan zona megathrust di pantai barat Sumatera serta memiliki garis pantai sekitar 243 kilometer. Karena itu, edukasi, simulasi evakuasi, dan penguatan kapasitas masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan pesisir, terus ditingkatkan guna meminimalkan risiko apabila terjadi bencana di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....