Pemulihan Mental Jadi Kunci Bangkitnya Penyintas Bencana
- 11 Jul 2026 15:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur dan penyaluran bantuan logistik. Di balik kerusakan fisik yang terlihat, terdapat luka psikologis yang kerap luput dari perhatian. Trauma pascabencana menjadi persoalan serius yang perlu ditangani agar para penyintas mampu bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.
Hal tersebut disampaikan Public Speaker, Trainer, People Developer, sekaligus Penulis Buku Public Speaking & Penanganan Trauma, Selamat Said Sanib, dalam dialog Program Kentongan RRI Pro 1 Samarinda yang mengangkat tema "Luka yang Tak Terlihat: Mengenali Trauma Pascabencana." Menurutnya, kesehatan mental harus menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi korban bencana.
Selamat Said menjelaskan bahwa trauma tidak selalu tampak secara fisik. Gejalanya dapat berupa mudah marah, sulit tidur, mimpi buruk, mudah tersinggung, hingga rasa takut berlebihan ketika mendengar suara yang mengingatkan pada peristiwa bencana. Setiap individu, katanya, memiliki respons yang berbeda tergantung pengalaman dan kemampuan dalam menghadapi musibah.
"Bencana itu boleh meruntuhkan bangunan, tetapi tidak boleh meruntuhkan harapan. Bangunan bisa dibangun kembali, tetapi harapan harus tetap dijaga agar seseorang mampu bangkit dari keterpurukan," ujar Selamat Said Sanib.
Ia menilai pemulihan psikologis selama ini masih sering dipandang sebagai pelengkap dibanding kebutuhan utama. Padahal, beban mental yang tidak ditangani dapat memengaruhi kehidupan penyintas dalam jangka panjang. Oleh karena itu, selain dukungan psikologis, pendekatan spiritual juga dinilai memiliki peran penting dalam membantu seseorang menerima kenyataan dan memulai proses penyembuhan.
Dalam dialog tersebut, Selamat Said juga memperkenalkan metode tapping, yaitu teknik relaksasi sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri dengan menggabungkan afirmasi positif dan stimulasi pada beberapa titik tubuh. Teknik tersebut, menurutnya, telah diterapkan dalam penanganan trauma, termasuk pada penyintas tsunami Aceh, dan dapat membantu mengurangi kecemasan maupun tekanan emosional.
"Metode tapping sangat sederhana dan bisa dipelajari siapa saja. Yang terpenting adalah menerima kondisi diri, mengikhlaskan pengalaman yang terjadi, lalu membangun kembali pikiran positif melalui afirmasi yang diulang secara konsisten," katanya.
Selain terapi psikologis, Selamat Said menekankan pentingnya dukungan keluarga sebagai lingkungan terdekat penyintas. Keluarga diharapkan menjadi pendengar yang baik, memberikan perhatian, dan menghindari kalimat-kalimat yang justru mengabaikan perasaan korban, seperti "sudah, jangan dipikirkan lagi." Menurutnya, empati jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar nasihat singkat.
Ia juga mengingatkan bahwa relawan maupun petugas penanggulangan bencana perlu menjaga kondisi mental mereka sendiri sebelum membantu orang lain. Relaksasi, pengaturan napas, dan kesiapan psikologis menjadi bekal penting agar relawan mampu mendampingi penyintas secara optimal tanpa mengalami kelelahan emosional.
Selamat Said menambahkan bahwa komunikasi yang empatik menjadi salah satu kunci keberhasilan pendampingan korban bencana. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda sehingga pendekatan yang digunakan pun tidak bisa disamaratakan. Ada yang lebih nyaman melalui sentuhan fisik, ada yang membutuhkan kata-kata penguatan, sementara yang lain lebih terbantu melalui tindakan nyata sesuai kebutuhannya.
"Jangan izinkan orang lain mencuri semangatmu untuk tetap eksis dalam kehidupan ini, karena sesungguhnya kita adalah hadiah bagi kehidupan," ucap Selamat kepada para penyintas dan masyarakat.
Melalui dialog tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa proses pemulihan pascabencana tidak hanya membangun kembali rumah, jalan, atau fasilitas umum. Yang tidak kalah penting adalah memulihkan kesehatan mental, memperkuat dukungan keluarga, serta menghadirkan pendampingan psikologis dan spiritual agar para penyintas mampu kembali menata kehidupan dengan penuh harapan dan optimisme.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....