Madrasah Umum di Samarinda Terima Siswa Disabilitas
- 03 Mar 2026 07:43 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Praktik pendidikan inklusif tidak selalu bergantung pada label resmi. Hal ini terlihat di Madrasah Darussalam Internasional Samarinda yang menerima siswa disabilitas meski tidak menyandang predikat sekolah inklusi. Seperti disampaikan Guru Bimbingan dan Konseling Madrasah Darussalam Internasional, Latifah, kepada RRI Samarinda.
Ia menjelaskan, kebijakan yayasan tidak pernah melarang penerimaan anak disabilitas. “Kalau dari yayasan memang tidak ada larangan untuk menerima anak-anak dengan disabilitas. Jadi kami menerima saja,” ujarnya dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 Samarinda.
Ia menuturkan, salah satu siswa dengan hambatan bicara telah bersekolah sejak jenjang madrasah tsanawiyah dan kini duduk di kelas 10. “Dari awal dia speech delay, belum lancar berbicara. Setelah tiga tahun dididik dengan sabar, sekarang sudah bisa berbicara dan memahami pelajaran dengan baik,” kata Latifah, dikutip Selasa 3, Maret 2026.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan guru dan teman sekelas. “Kami diajarkan untuk mendidik dengan sepenuh hati dan tidak membeda-bedakan. Tidak ada perlakuan khusus yang diskriminatif,” ucapnya.

Latifah mengakui proses adaptasi tidak selalu mudah dan membutuhkan waktu. “Awalnya memang trial and error. Teman-teman sempat bertanya karena ada yang berbeda. Tapi setelah satu semester berjalan, mereka bisa menerima dan bahkan belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat,” ujarnya.
Ia mencontohkan seorang siswa tunarungu yang menggunakan alat bantu dengar. Guru berupaya menyesuaikan metode pengajaran agar mudah dipahami. “Kami berbicara pelan-pelan, jelas, dan membantu dengan gerakan bibir karena dia membaca gerakan bibir,” kata Latifah.
Menariknya, teman-teman sekelas turut berperan aktif. “Bahkan ada yang menjadi translator ketika saya berkomunikasi dengan siswa tersebut,” ucapnya.
Latifah menegaskan, kunci pendidikan inklusif bukan sekadar status sekolah, melainkan komitmen dan empati seluruh warga sekolah. “Kalau hati kita menerima dan mau belajar, maka anak-anak pun akan belajar menerima,” ujarnya.
Praktik di madrasah ini menjadi contoh bahwa pendidikan ramah disabilitas dapat tumbuh dari budaya sekolah yang inklusif, bukan semata dari label administratif.