PMI Kota Malang Perkuat Edukasi Tanggap Darurat Hadapi Ancaman Bencana
- 08 Jul 2026 09:44 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana melalui edukasi dan pelatihan tanggap darurat. Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan sumber daya manusia, sarana pendukung, hingga membentuk masyarakat yang mampu melakukan penanganan awal sebelum bantuan datang.
Kepala Seksi Pelayanan PMI Kota Malang, Bayu Wardana, mengatakan kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun PMI, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
"PMI memiliki mandat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan. Karena itu kami mempersiapkan sumber daya manusia, sarana prasarana, sekaligus mengedukasi masyarakat melalui program Siaga Bencana Berbasis Masyarakat yang saat ini telah berjalan di lima kecamatan di Kota Malang," ujar Bayu dalam dialog Tanggap Bencana Kentongan PRO 1 RRI, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, PMI Kota Malang memiliki empat kelompok relawan, yakni Korps Sukarela (KSR), Tenaga Sukarela (TSR), relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), serta Palang Merah Remaja (PMR). Setiap relawan dibekali pelatihan sesuai kompetensi dan minat agar mampu memberikan pelayanan secara profesional saat diterjunkan di lapangan.
"Kami ingin relawan PMI benar-benar profesional. Tidak semua orang harus mempelajari semua bidang. Kalau minatnya di rescue kami arahkan ke pelatihan rescue, kalau di dapur umum kami bekali sesuai kebutuhan layanan tersebut," jelasnya.
Bayu mengungkapkan antusiasme masyarakat Kota Malang untuk menjadi relawan terus meningkat. Setiap tahun tercatat sekitar 800 orang bergabung sebagai relawan KSR, sementara TSR bertambah sekitar 100 hingga 150 orang.
Selain memperkuat kapasitas relawan, PMI juga terus meningkatkan layanan kedaruratan. Sepanjang tahun 2025, PMI Kota Malang mencatat sebanyak 1.458 respons layanan, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 827 respons. Sementara pada semester pertama 2026, jumlah layanan telah mencapai 558 respons.
"Semakin ke sini, kebutuhan respons kedaruratan terus meningkat, baik untuk bencana, kecelakaan lalu lintas maupun layanan medis di rumah tangga," katanya.
Saat ini PMI Kota Malang didukung tiga unit ambulans dan satu kendaraan rescue. Meski demikian, Bayu mengakui kebutuhan armada masih perlu ditambah agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat terus menjadi fokus utama PMI melalui program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang dilaksanakan hingga tingkat kelurahan. Program tersebut bertujuan membangun masyarakat yang mandiri dalam menghadapi situasi darurat.
"PMI tidak mungkin menjadi pihak pertama yang hadir saat bencana terjadi. Masyarakatlah yang lebih dulu berada di lokasi. Karena itu mereka harus memiliki pengetahuan dasar agar mampu melakukan evakuasi awal dan memenuhi kebutuhan dasar sebelum bantuan datang," ujarnya.
Bayu juga mengimbau masyarakat agar tidak panik saat menghadapi keadaan darurat dan segera menghubungi petugas apabila belum memiliki kemampuan memberikan pertolongan pertama.
"Bencana datang tanpa pemberitahuan. Jangan menunggu sirene baru peduli. Mulailah mempersiapkan diri dari sekarang, karena kepedulian terhadap sesama bisa dimulai hari ini," pungkasnya.
(Belgistaniko, PKL SMKN 1 Blitar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....