AI hingga Qris Ubah Cara Berbisnis, Pelaku UMKM Diminta terus Ikuti Perkembangan
- 06 Jul 2026 12:46 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan sistem pembayaran digital QRIS dinilai mulai mengubah cara pelaku usaha menjalankan bisnis, termasuk di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perubahan ini menuntut pelaku usaha untuk terus belajar dan beradaptasi agar tidak tertinggal dari perubahan perilaku konsumen.
Hal tersebut disampaikan Rachmat Anggara, CEO (Cuan Everything Officer) Qasir.id, dalam dialog di RRI Pro 1 Malang. Ia menilai bahwa perkembangan teknologi saat ini tidak lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi bagian dari perubahan besar dalam ekosistem bisnis.
“Perubahan yang tidak bisa kita tahan itu sudah pasti terjadi. Kita harus bisa lihat arah perubahan ini ke mana,” ujar Angga pada RRI pada Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, salah satu perubahan paling nyata saat ini terlihat dari pola konsumsi masyarakat yang semakin bergeser ke arah digital. Konsumen kini lebih terbiasa bertransaksi secara non-tunai melalui QRIS, mobile banking, hingga platform digital lain yang lebih cepat dan praktis.
"Pelaku usaha tidak bisa lagi hanya mengandalkan kebiasaan lama, karena pasar terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi dan perilaku konsumen. UMKM harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut agar tetap relevan," tegasnya.
Selain sistem pembayaran, ia juga menyoroti peran AI yang mulai banyak digunakan di berbagai sektor usaha. Namun, menurutnya, pemanfaatan AI untuk UMKM mikro masih belum menjadi kebutuhan utama, meskipun ke depan akan semakin penting.
“Sekarang AI lebih banyak digunakan, termasuk kami, untuk operasional internal agar lebih efisien. Bahkan dengan tim kecil, pekerjaan tetap bisa berjalan,” jelasnya.
Angga mengungkapkan bahwa teknologi AI juga telah membantu banyak perusahaan untuk bekerja lebih efisien dengan jumlah sumber daya manusia yang lebih sedikit, tanpa mengurangi produktivitas.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa akan muncul kesenjangan antara pelaku usaha yang mampu memanfaatkan teknologi dan yang tidak mengikuti perkembangan tersebut. Perbedaan ini berpotensi menciptakan gap besar dalam persaingan usaha ke depan.
“Bisa akan ada yang sangat melek AI, semua otomatis, laporan keuangan otomatis. Tapi ada juga yang tidak memakai sama sekali,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya literasi teknologi, terutama bagi generasi muda dan pelaku usaha baru. Menurutnya, kemampuan memahami dan memanfaatkan teknologi seperti AI akan menjadi keterampilan penting di masa depan, termasuk di berbagai bidang pekerjaan.
Angga menyebut, perubahan teknologi harus dilihat sebagai peluang, bukan ancaman. Ia mencontohkan bagaimana UMKM yang mampu beradaptasi dengan sistem digital, pencatatan keuangan, dan pembayaran non-tunai cenderung lebih mudah berkembang.
“Intinya kita harus menyesuaikan diri dengan perubahan. Jangan menolak perubahan, tapi ikuti arah arusnya,” ujarnya.
Di akhir dialog, ia menegaskan bahwa tujuan utama dari seluruh perkembangan teknologi tetap sama, yaitu memberikan manfaat dan membantu pelaku usaha agar bisa berkembang lebih baik.
“Yang paling penting itu kita bisa memberi manfaat sebanyak mungkin. Kalau itu dilakukan, semua akan ikut menyesuaikan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....