BULOG Maumere Jemput Gabah Petani hingga Sawah

  • 19 Mei 2026 19:33 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Perum BULOG Cabang Maumere mulai mengubah pola distribusi pangan di Kabupaten Sikka dengan turun langsung menyerap gabah dan beras dari sawah petani di Kecamatan Magepanda. Langkah ini dilakukan untuk memutus ketergantungan petani terhadap tengkulak dan praktik ijon yang selama bertahun-tahun menekan harga hasil panen.

Program tersebut dijalankan dalam momentum peringatan 59 tahun BULOG bertema “Mengawal Pangan Menjaga Masa Depan”. Petugas BULOG kini mendatangi lokasi panen, menimbang gabah di lapangan, lalu membayar hasil panen secara tunai kepada petani.

Kepala Perum BULOG Maumere, Marten Luther Sesa, mengatakan pola jemput gabah diterapkan agar petani memperoleh harga yang lebih layak. Menurutnya, selama ini petani kerap berada dalam posisi lemah ketika menjual hasil panen kepada tengkulak.

“Di Sikka kami berupaya agar petani memperoleh harga yang layak dan tidak lagi ditekan para tengkulak,” kata Marten kepada media, Senin 18 Mei 2026. Ia menjelaskan Magepanda dipilih setelah BULOG melakukan survei di 21 kecamatan dan menilai wilayah tersebut sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Kabupaten Sikka.

Dalam skema yang diterapkan, petani hanya memanen padi lalu memasukkan gabah ke dalam karung dan meletakkannya di titik penjemputan. Tim pengadaan BULOG kemudian datang menimbang hasil panen dan langsung melakukan pembayaran di lokasi.

BULOG menetapkan harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kilogram dengan syarat usia panen minimal 112 hari serta dilengkapi surat keterangan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Seluruh biaya penjemputan, pengeringan hingga penggilingan ditanggung negara melalui kerja sama dengan tiga Mitra Lapangan Pengadaan (MLP).

Menurut Marten, sebelumnya BULOG lebih fokus menyerap gabah petani. Namun pola itu kemudian diperkuat dengan penyerapan beras karena sebagian petani mengalami kendala dalam distribusi dan penjualan hasil panen.

Pada 2025, BULOG Maumere menargetkan penyerapan 50 ton beras dan berhasil merealisasikan 48 ton atau lebih dari 90 persen target. Capaian tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya partisipasi petani dalam skema distribusi pangan pemerintah.

Program ini juga diarahkan untuk memutus praktik ijon yang masih kuat di sejumlah wilayah sentra produksi. Marten menjelaskan tengkulak biasanya memberi uang muka sebelum musim tanam lalu membeli gabah saat panen dengan harga jauh di bawah standar pasar.

“Gabah biasanya dibeli tengkulak hanya Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilogram. Ini jauh di bawah harga standar nasional,” ujarnya. Kondisi itu membuat keuntungan petani terus tergerus karena tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga

BULOG juga menilai banyak petani belum menghitung keseluruhan biaya produksi ketika memilih menjual beras dibanding gabah. Selain ongkos pengangkutan sekitar Rp10 ribu per karung, petani masih harus menanggung biaya penjemuran dan penggilingan sebelum beras dipasarkan.

Pendampingan program dilakukan bersama Babinsa dan PPL di tingkat desa. Dari delapan desa di Kecamatan Magepanda, tujuh desa tercatat sebagai wilayah penghasil padi aktif dengan rata-rata hasil ubinan mencapai 7,4 kilogram gabah.

Marten menyebut dampak intervensi BULOG mulai terlihat dari meningkatnya harga jual hasil panen petani di tingkat lokal. Sebelum program berjalan, harga beras petani berkisar Rp8 ribu hingga Rp11 ribu per kilogram, namun setelah BULOG menetapkan harga pembelian Rp12 ribu per kilogram, harga beras petani kini menembus lebih dari Rp13 ribu saat musim panen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....