Mengenal Marah Roesli Sastrawan Asal Padang

  • 06 Agt 2024 13:05 WIB
  •  Padang

Padang : Kisah Siti Nurbaya memang sudah tak asing bagi masyarakat Kota Padang. Kepopuleranya seakan tidak lekang oleh zaman. Namun tidak banyak yang mengenal sosok pengarang roman tersebut. Marah Roesli adalah sosok seorang sastrawan yang ada dibalik cerita Siti Nurbaya.

Mengutip buku Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang, Ia lahir di Kota Padang pada 7 Agustus 1889 dari keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Sutan Abu Bakar adalah seorang demang yang masih keturunan Raja Pagaruyung. Ibunya berdarah Jawa, keturunan Sentot Alibasyah yang merupakan salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Meskipun Marah Roesli lebih dikenal sebagai sastrawan, sesungguhnya beliau adalah seorang dokter hewan. Marah Roesli mengikuti pendidikan Sekolah Dokter Hewan di Bogor sampai tamat pada tahun 1915.

Minat Marah Roesli terhadap sastra memang sudah tumbuh semenjak kecil. Selain hobi membaca buku, beliau juga senang mendengarkan cerita dari tukang kaba keliling yang ada dikampung. Romannya Siti Nurbaya yang melegenda sebenarnya adalah latar belakang pengalamannya.

Ketika masih bersekolah di Bogor tahun 1911, Marah Roesli menikahi seorang gadis sunda kelahiran Bogor yang bernama Nyai Raden Ratna Kencana Wati. Pernikahan ini tidak diketahui oleh keluarga sehingga Marah Rusli diminta orangtuanya kembali ke Padang. Tiba di Padang, Marah Roesli dinikahkan orangtuanya dengan seorang wanita Minang. Sebagai seorang anak, ia tidak dapat menghindari perintah orang tuanya. Pernikahanpun akhirnya berlangsung. Namun setelah acara pernikahan selesai, Marah Roesli langsung menjatuhi talak tiga kepada istrinya dan kemudian meninggalkan Kota Padang menuju pulau Jawa. Kejadian ini membuat orangtuanya sangat marah.

Marah Roesli kembali menekuni profesinya sebagai dokter hewan dan bertugas di Sumbawa Besar dan pernah menjadi Kepala Perhewanan di Bima tahun 1916. Pada tahun 1918, Marah Roesli pindah ke Bandung menjabat Kepala Peternakan Hewan Kecil, kemudian beliau pindah ke Blitar menjadi Kepala Perhewanan Daerah. Pada tahun 1920, Marah Rusli kembali ke Bogor karena diangkat menjadi asisten leraar (dosen) pada Sekolah Kedokteran Hewan. Pada tahun 1921 beliau menjadi dokter hewan di Jakarta. Empat tahun kemudian beliau pindah ke Balige, Tapanuli, Sumatra Utara. Beliau tetap berkarir dan sambil menulis hingga pasca kemerdekaan. Buah pernikahannya dengan Nyai Raden Ratna Kencana Wati, Marah Roesli mendapatkan tiga orang anak, yakni Safhan Roesli, Roeshan Roesli, dan Nani Roesli. Marah Rusli menghembuskan nafas terakhirnya di Kota Bandung 17 Januari 1968, beliau wafat pada usia 79 tahun.

Karya Marah Roesli yang terkenal lainnya adalah La Hami (1924), Anak dan Kemenakan (1956), Memang Jodoh (naskah), dan Tesna Zahera (naskah). Beliau juga menerjemahkan novel karya Charles Dickens, Gadis yang Malang (1922). Selain itu tokoh rekaan yang diciptakannya, Siti Nurbaya telah menjelma legenda di Padang, banyak yang meyakini bahwa Siti Nurbaya bukanlah tokoh fiktif dan berupaya membuktikan keberadaannya, dengan meyakini sebuah makam keramat di sela batu dalam gua di bukit Gunung Padang. Saat ini dikenal oleh masyarakat sebagai kuburan Siti Nurbaya. Pemerintah Kota Padang juga mengabadikan Siti Nurbaya sebagai nama taman, jembatan, dan festival tahunan di Kota Padang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....