Kenalkan Satua Bali Melalui E-book Cupak Grantang

  • 09 Jul 2024 21:09 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, mengenalkan Media digital E-book Masatua Cupak Grantang kepada anak-anak Panti Asuhan Yayasan Gayatri Widya Mandala.

Tim PKM-PM yang mengusung judul Mawarka: Masatua Cupak Grantang sebagai Warisan Berbasis Digitalisasi dalam Membangun Karakter Anak di Panti Asuhan Yayasan Gayatri Widya Mandala dikomandoi oleh Ni Kadek Tina Sumerti selaku ketua. Sedangkan Pande Komang Primandani, Ni Luh Putu Gita Duwi Cahayani dan Ni Ketut Tila Heryantini sebagai anggotanya

Ketua tim, Ni Kadek Tina Sumerti mengatakan, Media digital E-book Masatua Cupak Grantang dipilih berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan pendiri Panti Asuhan Yayasan Gayatri Widya Mandala, Eriana Herlisanti. Ditemukan permasalahan bahwa di Panti Asuhan Hindu pertama yang bertempat di Tabanan, Bali itu, bahwa masatua Bali (bercerita dengan bahasa Bali), belum diajarkan dan dilatihkan kepada anak-anak disana.

“0% dari anak-anak itu yang mengetahui tentang masatua Bali,” ucap ketua yang akrab disapa Tina saat dikonfirmasi RRI Selasa (9/7/2024).

Tina menambahkan, hal itu disebabkan karena pelatih atau pengurus panti asuhan belum mengupayakan mengenai masatua Bali. Mengingat, pengurus panti mengalami kesulitan dalam menentukan dan memilih cara serta media pembelajaran yang tepat untuk melatih anak-anak panti dalam masatua.

Mahasiswi semester 4, Jurusan Pendidikan Dasar, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan itu pun menjelaskan, Media digital E-book Masatua Cupak Grantang adalah media yang mudah digunakan pada kehidupan sehari-hari. Media E-book Masatua Cupak Grantang ini akan menjadi media digitalisasi yang cocok, sehingga pengurus dengan mudah untuk menggunakan media ini, untuk melakukan pelatihan kepada anak-anak panti.

“Selain e-book kami juga memberikan buku masatua Bali agar mereka juga dapat membaca cerita yang lain,” ujarnya.

Tina mengharapkan, program yang didampingi oleh dosen pembina Dewi Anzelina itu, dapat menjadi salah satu terobosan baru, sehingga mampu membangun karakter sosial bagi anak-anak. Disamping itu, PKM-PM yang telah berjalan sejak bulan Mei hingga Agustus 2024 ini, diupayakan untuk bisa dilestarikan, mengingat budaya Bali seperti ini, sudah sangat jarang untuk didengarkan, dikarenakan jarang dikenalkan kepada anak-anak panti.

“Semog melalui masatua ini, akan membuat anak-anak panti lebih mengenal warisan tradisi budaya lokal yang ada di Bali,” katanya mengakhiri.

Untuk diketahui, tim PKM-PM melakukan pengabdian masyarakat dengan sasaran anak prasekolah. Dengan rentang usia 3-6 tahun sejumlah 7 anak prasekolah yang berada di Panti Asuhan Yayasan Gayatri Widya Mandala.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....