Jaga Tradisi, Banjar Melanting Tuntaskan Ogoh-ogoh Sato Megaang
- 03 Mar 2024 14:45 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Pembuatan ogoh-ogoh di Banjar Dinas Melanting, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, menjadi sorotan karena mengusung tema Sato Megaang. Meskipun terinspirasi dari karya sebelumnya, namun teruna-teruni Banjar Melanting memberikan sentuhan unik dengan menonjolkan anatomi dan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan.
Salah satu pembuat ogoh-ogoh, Ida Bagus Kade Santun Pribadi, mengungkapkan bahwa proyek ini telah menghabiskan anggaran sekitar Rp15 juta dan sudah mencapai progres 90 persen. Dengan tinggi 5 meter dan lebar 1,5 meter, ogoh-ogoh ini dibuat dengan bahan ramah lingkungan seperti bambu, kayu, dan bahan daur ulang seperti koran, tisu, dan kertas bekas.
Ia tak menampik bila pembuatan ogoh-ogoh ini memang terinspirasi dari ogoh-ogoh buatan Sekaa Truna (ST) Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, pada perayaan Nyepi Caka 1945 tahun 2023 lalu.
“Ogoh-ogoh ini kami ambil dari sastra ajaran Hindu, juga melihat dari salah satu ST di Tampaksiring yang dibuat tahun lalu. Serupa tapi tak sama. Kami tonjolkan anatomi berupa otot-ototnya. Di Singaraja jarang ada yang membuat ogoh-ogoh dengan anatomi,” ujarnya, Jumat (1/3/2024).

Meskipun tidak menemui kendala besar selama proses pembuatan, namun ia menyebut harus bekerja ekstra dalam membentuk anatomi kulit manusia. Ia harus menggunakan tulang babi untuk membuat gigi ogoh-ogoh. Sedangkan mata ogoh-ogoh dipasang menggunakan bola lampu berwarna putih.
“Dalam pembuatan kami memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan. Untuk giginya kami buat dari tulang babi. Ada usul dari salah satu teman, kemudian kami kreasikan gunakan tulang babi. Tulang babinya diberi oleh teman,” ucap pria yang akrab disapa Gusade itu.
Lebih lanjut kata dia, teruna-teruni Banjar Melanting harus meminjam rumah warga dalam proses pembuatan karya seni tersebut. Lantaran balai banjar yang biasanya digunakan masih dalam proses perbaikan.
Meskipun demikian, Gusde bersikeras untuk tetap melanjutkan tradisi ini dan menyatakan bahwa ketidakgerakan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan budaya dan tradisi Bali.
“Kalau kita sebagai generasi muda tidak bergerak, maka budaya dan tradisi Bali ini bisa hilang dan dilupakan,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....