Penampahan Galungan, Hilangkan Keserakahan Dalam Diri

  • 27 Feb 2024 13:57 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Berbagai rangkaian kegiatan, mewarnai aktivitas umat Hindu dalam menyambut hari Raya Galungan. Kegiatan dimulai dengan menyiapkan sarana banten upakara (perlengkapan sembahyang) serta tradisi nampah (memotong hewan) yang sering disebut Penampahan Galungan.

Tradisi Penampahan Galungan yang dirayakan sehari menjelang Galungan tepatnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan tersebut, bertepatan dengan hari Selasa (27/2/2024) bermakna menghilangkan sifat tamas dan lobha (serakah) dengan cara nampah atau memotong hewan yadnya. Dalam lontar Sundarigama, penampahan Galungan adalah symbol penetralisir kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga dalam wujud Bhuta Amangkurat.

Dengan tradisi ini, umat Hindu meyakini dapat menetralisir kekuatan negatif tersebut dengan nampah atau memotong hewan yadnya untuk upakara yadnya di rumah masing – masing.

Dilansir dari internet, penampahan berarti menyambut, yang berkembang menjadi "namya" yang artinya sembah. Kemudian, ada juga yang memahami nampah sebagai sembelih atau memotong hewan.

Hal itu didasari karena saat Penampahan Galungan, umat Hindu banyak menyembelih hewan, seperti babi, ayam, itik, atau lainnya kecuali sapi. Pada intinya, Penampahan Galungan bertujuan untuk menetralisir kekuatan-kekuatan Sang Kala Tiga agar kembali pada sumbernya.

Hal tersebut dikarenakan saat Penampahan Galungan dipercaya sebagai hari turunnya Sang Kala Tiga yang dianggap paling keras dan ganas, yaitu Sang Kala Tiga Amangkurat. Sang Kala Tiga terdiri dari Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amangkurat, yang dikatakan sebagai simbol angkara (kemarahan) dan turun untuk mengganggu umat manusia.

Sang Kala Tiga Amangkurat, juga dipercaya dapat menggoda manusia yang kurang persiapan diri atau waspada. Apabila berhasil dihasut, maka manusia akan mendapat konflik, merasa sedih, dan kacau.

Untuk mencegah hal itu, masyarakat Hindu di Bali melakukan Penampahan Galungan dengan memotong ayam atau babi sebagai wujud dari memotong sifat buruk manusia. Ayam dianggap menyimbolkan keserakahan dan suka bertengkar, sedangkan babi melambangkan kemalasan.

Selain memotong hewan, pada hari Penampahan Galungan, umat Hindu juga membuat serta memasang penjor sebagai ucapan syukur. Penjor merupakan simbol dari Naga Basuki yang artinya kesejahteraan dan kemakmuran, yang dibuat dari batang bambu melengkung yang dihias.

Penampahan Galungan dirayakan lewat upacara Natab Sesayut Penampahan atau Sesayut Pamyak Kala Laramelaradan. Natab Sesayut Penampahan memiliki makna untuk mengingatkan manusia agar menguatkan Wiweka Jnana, yaitu membangun kekuatan diri supaya bisa membedakan mana yang benar dan tidak.

Selamat Hari Penampahan Galungan untuk Umat Hindu Sedharma!

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....