Mengenal Meamuk-Amukan, Tradisi Perang Api Sambut Nyepi
- 30 Mar 2025 11:49 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Masyarakat Desa Adat Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali menjalankan sebuah tradisi unik dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tradisi itu disebut Meamuk-Amukan.
Tradisi Meamuk-Amukan adalah tradisi perang api menggunakan prakpak atau danyuh (janur kering) yang dibakar, kemudian diadu oleh dua orang secara bersamaan layaknya orang berperang. Walau saling pukul, namun tidak ada satu pun peserta yang terluka.
Para pria yang mengikuti tradisi itu bertelanjang dada, dengan menggunakan kain tridatu (3 warna, putih hitam merah) sebagai kamennya (sarung). Meski disebut dengan perang, tetapi dalam pelaksanaan tradisi Meamuk-amukan tidak ada yang menang ataupun kalah.
Waktu pelaksanaan tradisi Meamuk-amukan adalah setahun sekali, yakni saat pengrupukan Tilem Kesanga yaitu satu hari sebelum Hari Raya Nyepi. Tahun ini, dirayakan tepat pada Jumat (28/3/2025) sore menjelang malam.
Tradisi Meamuk-Amukan digelar secara turun-temurun sejak lama. Tradisi itu, memiliki makna bahwa masyarakat Desa Padangbulia, dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi, bisa berjalan dengan baik, tanpa membawa rasa dendam dan amarah.
Tradisi itu juga mengandung nilai kebersamaan, kekeluargaan dan mempererat rasa persaudaraan antar warga desa. Meski namanya Meamuk-amukan atau dalam bahasa Indonesia bermakna Mengamuk, namun warga setempat menyambut Nyepi dengan sukacita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....