Perjuangan Seorang Ibu yang Tak Pernah Mengenal Batas

  • 22 Jul 2026 14:49 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Perjuangan seorang ibu memang tak pernah mengenal batas. Demi masa depan dan kebahagiaan buah hatinya, lelah seolah diubah menjadi peluru semangat yang tak ada habisnya.

Dari menyiapkan kebutuhan rumah di waktu fajar hingga menembus kerasnya perjalanan menuju tempat kerja, setiap peluh yang menetes adalah bukti ketulusan cinta seorang ibu untuk keluarganya. Suasana santai menyelimuti rumah Bu Yanti (37) di Parung pada Sabtu sore, 18 Juli 2026. Di tengah obrolan hangat akhir pekan itu, kisah perjuangan seorang ibu bernama Yanti dimulai.

Pukul 04.00 WIB setiap harinya, disaat kawasan Parung masih diselimuti pekat dan sunyi, dering alarm kamar Bu Yanti sudah menjadi panggilan tugas wajib. Sebelum jarum jam menunjukkan pukul 06.40 WIB, ia sudah harus melangkah keluar dari pintu rumah menuju Stasiun Parung Panjang agar bisa tiba di kantornya daerah Jakarta sebelum pukul 08.40 WIB.

"Kalau ditanya pengalaman paling menantang, ya pas jam-jam sibuk itu, Napas saja susah, pokoknya sesak banget! Tapi serunya ya di situ, kita berdesakan sama ribuan orang demi satu tujuan: sampai di tempat kerja tepat waktu,"ujar Bu Yanti kepada RRI saat menceritakan rutinitas hariannya di kediamannya di Parung, Kota Bogor Jawa Barat, 18 Juli 2026 Sabtu sore.

Perjalanan panjang Bogor Jakarta tentu menguras energi. Rekan-rekan kerjanya di kantor pun kerap menaruh empati. Merekam jejak perjalanan Bu Yanti yang panjang belum lagi kemungkinan tak dapat tempat duduk membuat teman-temannya paham betul betapa energinya sudah terkuras habis alias "capai di jalan" sebelum mulai bekerja.

Namun, Bu Yanti punya resep sederhana untuk menepis kantuk dan memulihkan stamina di meja kerja. Di tengah lautan manusia dan ruang gerbong yang terbatas, Bu Yanti punya jurus bertahan hidup. Di dalam tasnya, ada dua barang wajib yang tak pernah absen: masker dan minyak angin.

"Dua barang itu penolong banget buat mengusir bau aneh-aneh atau pas kepala mulai pusing berdesakan. Gempur air putih, minum es kopi, terus langsung masuk ke kesibukan tugas. Kalau kerjaan sudah jalan, ngantuknya hilang sendiri," ungkapnya.

Meski harus menempuh perjalanan berat dari Senin hingga Sabtu, peran Bu Yanti sebagai ibu dua anak tetap menjadi prioritas utama. Jarak yang membentang di siang hari ia pangkas lewat gawai. Di sela jam istirahat kantor, Bu Yanti selalu menyempatkan diri video call hanya untuk sekadar menyapa dan melepas rindu pada buah hatinya.

Malam hari menjadi momen yang paling berharga. Meski tiba di rumah dalam kondisi lelah, Bu Yanti selalu mengusahakan hadir secara utuh untuk anak-anaknya. Soal membagi peran dengan sang suami di tengah padatnya jadwal kerja, Bu Yanti mengaku fleksibel. Hari libur menjadi ruang bagi mereka berdua untuk berbincang dari hati ke hati.

"Bercanda, nonton TV bareng, atau malah main game bareng (mabar) sama anak-anak. Tapi ya jujur saja, kalau badannya sudah benar-benar remuk, begitu sampai rumah kadang langsung tepar tidur. Biasanya kami manfaatkan hari libur buat deep talk. Tapi kalau sama-sama capek setelah seminggu banting tulang, ya hari libur benar-benar dipakai buat istirahat total," kata Bu Yanti.

Bagi Bu Yanti, waktu bersama keluarga adalah investasi yang tidak bisa ditawar. Jika waktu di akhir pekan dirasa belum cukup untuk menemani tumbuh kembang anak-anaknya, ia tak ragu mengambil jatah cuti kerja demi menciptakan momen berkualitas bersama mereka. Di balik riuhnya gerbong kereta dan sengitnya jalanan ibu kota, Bu Yanti membuktikan bahwa lelah seorang ibu selalu kalah oleh hangatnya pelukan di rumah.

(Sumber: Ayu Wulandari_STIDAlBiruni)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....