Menanam Cara Berpikir untuk Menyelamatkan Ciremai
- 28 Agt 2026 17:49 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.
- Ciremai bukan sekadar landmark geografis, melainkan bagian integral dari sistem kehidupan masyarakat di wilayah Ciayumajakuning.
- Keberadaan Ciremai mempengaruhi berbagai aspek kehidupan lokal termasuk hutan, tanah, air, pertanian, keanekaragaman hayati, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Gunung Ciremai kerap dilihat sebagai bentang alam yang menjulang di Jawa Barat. Dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut, Ciremai adalah gunung tertinggi di provinsi ini. Namun, nilai Ciremai tidak berhenti pada ketinggian dan keindahan lanskapnya.
Bagi masyarakat di wilayah Ciayumajakuning, Ciremai adalah bagian dari sistem kehidupan. Hutan, tanah, air, pertanian, keanekaragaman hayati, hingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat memiliki hubungan dengan keberadaan kawasan ini.
Karena itu, ketika tutupan vegetasi berkurang, persoalannya tidak berhenti pada hilangnya pohon. Ketika kawasan tangkapan air terganggu, dampaknya tidak hanya berupa perubahan kondisi lingkungan. Ia dapat berlanjut menjadi persoalan ketersediaan air, pertanian, ekonomi rumah tangga, bahkan ketahanan masyarakat. Di sinilah kita perlu mengubah cara memandang persoalan lingkungan.
Krisis ekologis tidak cukup dijawab dengan menanam pohon. Edukasi lingkungan tidak cukup dengan mengajarkan siswa agar membuang sampah pada tempatnya. Konservasi juga tidak cukup dengan membuat kampanye sesaat.

Kita membutuhkan cara berpikir yang mampu melihat hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya. Cara berpikir itu dikenal sebagai systems thinking atau berpikir sistem.
Lingkungan Bukan Kumpulan Persoalan yang Terpisah
Selama ini, persoalan lingkungan sering dibicarakan secara sektoral. Sampah menjadi urusan pengelolaan sampah. Banjir menjadi persoalan drainase. Kekeringan menjadi persoalan ketersediaan air. Deforestasi menjadi persoalan kehutanan. Padahal, persoalan tersebut dapat berada dalam satu rangkaian sebab-akibat.
Hilangnya tutupan vegetasi dapat memengaruhi kemampuan tanah menyerap air. Berkurangnya infiltrasi dapat memengaruhi cadangan air tanah. Perubahan tata guna lahan dapat meningkatkan limpasan permukaan dan erosi. Pada akhirnya, berbagai perubahan tersebut dapat berpengaruh terhadap pertanian dan kehidupan masyarakat.
Jika setiap persoalan hanya ditangani berdasarkan sektornya, kita berisiko menyelesaikan gejala tanpa menyentuh hubungan yang menyebabkan persoalan tersebut terus muncul.
Systems thinking mengajak kita keluar dari cara pandang semacam itu.
Pendekatan ini tidak hanya bertanya, “Apa masalahnya?”, tetapi juga “Apa yang menyebabkan masalah itu?”, “Apa saja yang terhubung dengannya?”, dan “Apa konsekuensi dari sebuah keputusan dalam jangka panjang?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dalam pengelolaan Gunung Ciremai karena ekosistem tidak bekerja berdasarkan batas administratif maupun batas bidang ilmu.
Air tidak mengenal batas kabupaten. Udara tidak berhenti di batas kawasan konservasi. Perubahan tutupan lahan di satu wilayah dapat memberikan konsekuensi bagi wilayah lain.
Dengan kata lain, Ciremai harus dilihat sebagai sebuah sistem, bukan sekadar kawasan hutan atau objek konservasi.
Pendidikan Harus Mengubah Cara Pandang
Perubahan cara berpikir tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah atau pengelola kawasan konservasi. Ia harus ditanamkan melalui pendidikan.

Sekolah memiliki posisi strategis karena perubahan perilaku ekologis membutuhkan proses yang panjang. Kesadaran tidak lahir hanya dari satu kali kampanye, seminar, atau kegiatan penanaman pohon.
Kesadaran tumbuh ketika seseorang memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensinya.
Seorang siswa yang menanam pohon, misalnya, idealnya tidak berhenti pada pemahaman bahwa pohon menghasilkan oksigen. Ia perlu memahami bahwa vegetasi juga berkaitan dengan kelembapan tanah, infiltrasi air, erosi, ketersediaan air, produktivitas lahan, hingga kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, pohon tidak lagi dipandang sebagai objek yang sekadar harus ditanam, tetapi sebagai bagian dari sistem ekologis yang harus dipahami dan dirawat.
Gagasan inilah yang menjadi dasar Program Alunan Ciremai yang dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 1 Kuningan.
Program tersebut mengintegrasikan pelatihan systems thinking bagi guru, penerapannya dalam pembelajaran, serta kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon.
Yang lebih penting dari ketiga kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitasnya, melainkan perubahan cara berpikir yang hendak dibangun.
Guru Tidak Sekadar Mengajarkan, tetapi Menghubungkan
Dalam pendidikan lingkungan, guru memiliki posisi penting sebagai penghubung antara pengetahuan dan realitas.
Persoalan Ciremai dapat menjadi ruang belajar lintas disiplin. Guru biologi dapat membahas keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Guru matematika dapat menggunakan data curah hujan, debit air, atau pertumbuhan vegetasi sebagai bahan analisis. Guru teknologi informasi dapat mengembangkan pemetaan atau media digital. Guru bahasa dapat mengajak siswa menulis mengenai persoalan lingkungan berdasarkan hasil observasi.
Dengan cara demikian, lingkungan tidak menjadi materi tambahan yang berdiri sendiri.
Lingkungan menjadi konteks pembelajaran.
Di sinilah systems thinking memiliki relevansi. Siswa tidak hanya belajar mengenai fakta, tetapi belajar menghubungkan fakta.
Mereka diajak memahami bahwa sebuah persoalan memiliki banyak faktor, sebuah keputusan memiliki konsekuensi, dan sebuah solusi dapat menghasilkan dampak yang tidak selalu langsung terlihat.
Kemampuan semacam ini semakin penting di tengah persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Dari Menanam Pohon ke Merawat Sistem
Kegiatan penghijauan sering kali berhenti ketika bibit selesai ditanam. Foto dokumentasi diambil, kegiatan dinyatakan selesai, lalu perhatian beralih kepada agenda berikutnya.
Padahal, bagi sebuah pohon, kehidupan justru dimulai setelah penanaman.
Karena itu, pendidikan konservasi perlu menggeser orientasi dari “berapa pohon yang ditanam” menjadi “bagaimana pohon tersebut tumbuh dan memberi manfaat bagi ekosistem”.
Pertanyaan semacam ini merupakan bagian dari cara berpikir sistemik.
Apa yang menyebabkan tanaman tumbuh atau mati? Bagaimana kondisi tanah memengaruhinya? Bagaimana ketersediaan air? Apa hubungan vegetasi dengan suhu lingkungan? Bagaimana perubahan tersebut berdampak pada organisme lain?
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul, kegiatan menanam pohon berubah menjadi proses belajar.
Siswa tidak hanya memegang cangkul dan bibit, tetapi belajar memahami hubungan antara manusia dan ekosistem.
Ciremai Membutuhkan Generasi yang Mampu Berpikir Panjang
Tantangan lingkungan pada masa depan tidak akan menjadi semakin sederhana.
Perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya air, perubahan tata guna lahan, pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan, dan perkembangan ekonomi akan saling berkelindan.
Karena itu, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang lingkungan, tetapi mampu memahami kompleksitasnya.
Mereka perlu mampu melihat konsekuensi jangka panjang dari keputusan hari ini.
Di sinilah pendidikan memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mentransfer pengetahuan.
Pendidikan harus melatih kemampuan untuk membaca pola, memahami hubungan, menguji asumsi, dan mengambil keputusan berdasarkan keterkaitan berbagai faktor.
Systems thinking dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut.
Ciremai Tidak Bisa Dijaga Sendirian
Pada akhirnya, menjaga Ciremai bukan pekerjaan satu lembaga.
Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan riset. Sekolah memiliki kekuatan pendidikan. Komunitas memiliki pengalaman lapangan. Dunia usaha memiliki sumber daya. Masyarakat merupakan bagian langsung dari sistem sosial-ekologis yang berada di sekitar kawasan Ciremai.
Semua unsur tersebut perlu ditempatkan dalam satu ekosistem kolaborasi.
Program Alunan Ciremai menunjukkan salah satu kemungkinan bagaimana perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat pendidikan dapat mengambil bagian dalam agenda konservasi.
Namun, program semacam ini seharusnya tidak berhenti sebagai proyek di satu sekolah.
Ia perlu dikembangkan menjadi gerakan pendidikan lingkungan yang lebih luas. Sekolah-sekolah di sekitar Ciremai dapat menjadi laboratorium pembelajaran konservasi. Perguruan tinggi dapat memperkuat riset. Teknologi dapat digunakan untuk memantau perubahan lingkungan. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan berbasis data.
Dengan demikian, konservasi tidak hanya berlangsung di kawasan hutan, tetapi juga tumbuh di ruang kelas.
Ada kecenderungan untuk mencari solusi cepat terhadap persoalan lingkungan. Kita ingin melihat pohon segera ditanam, sampah segera dibersihkan, dan kawasan segera kembali hijau.
Tetapi ekosistem tidak bekerja secepat agenda manusia. Konservasi membutuhkan kesabaran, konsistensi, pengetahuan, dan kemampuan melihat hubungan dalam jangka panjang. Karena itu, mungkin hal pertama yang harus kita tanam bukanlah pohon.
Ketika seorang anak memahami bahwa air yang mengalir di rumahnya memiliki hubungan dengan hutan di lereng Ciremai, ketika ia memahami bahwa perubahan tutupan lahan dapat memengaruhi pertanian, dan ketika ia menyadari bahwa keputusan manusia hari ini dapat menentukan kualitas lingkungan puluhan tahun mendatang, saat itulah pendidikan mulai memainkan peran ekologisnya. Ciremai tidak hanya membutuhkan tangan yang menanam pohon.
Ciremai membutuhkan pikiran yang memahami bagaimana sebuah ekosistem bekerja, kebijakan yang melihat dampak jangka panjang, serta masyarakat yang menyadari bahwa kehidupan mereka merupakan bagian dari sistem yang sama.
Program Alunan Ciremai adalah sebuah langkah kecil menuju cara pandang tersebut. Sebab, menyelamatkan gunung tidak selalu dimulai dari lerengnya. Kadang-kadang, ia harus dimulai dari ruang kelas dengan menanam cara berpikir sebelum menanam pohon.
Penulis: Civitas Univesitas Muhammadyah Kuningan, Dr. Casnan, M.Si., Dr. Apt. Wawang Anwarudin, M.Sc., dan Dr. Heti Triwahyuni, M.Pd.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....