PNM Kuningan Latih Ibu Rumah Tangga Budidaya Maggot

  • 23 Feb 2026 20:35 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tak bernilai, kini mulai dilihat sebagai peluang usaha oleh puluhan ibu rumah tangga di Kabupaten Kuningan. Melalui Program Klasterisasi Budidaya Maggot, sebanyak 30 nasabah PNM Mekaar Unit Jalaksana belajar mengolah limbah organik menjadi komoditas yang menghasilkan.

Program yang berjalan di wilayah Region Cirebon-2 ini memang dirancang untuk menyasar perempuan prasejahtera. Bukan sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama agar para peserta mampu membangun usaha kolektif yang berorientasi pasar, sekaligus berkontribusi dalam pengurangan sampah rumah tangga.

Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, menjelaskan bahwa budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dipilih karena memiliki prospek ekonomi yang jelas dan prosesnya relatif mudah diterapkan di skala rumah tangga.

“Dari limbah organik rumah tangga, peserta bisa menghasilkan maggot sebagai pakan ternak berprotein tinggi dan kasgot yang bernilai sebagai pupuk organik. Jadi ada manfaat ekonomi sekaligus lingkungan,” ujarnya kepada RRI, Senin, 23 Februari 2026.

Selama tiga bulan, para peserta tidak berjalan sendiri. Mereka mendapat pendampingan dari Universitas Muhammadiyah Cirebon UMC, mulai dari teknik budidaya hingga cara mengelola usaha sederhana dan memasarkan produk. Pendekatan ini diharapkan membuat usaha yang dirintis tidak berhenti di tengah jalan.

Perubahan pun mulai terasa. Para peserta mengaku kini memandang sampah dengan cara berbeda. Jika sebelumnya langsung dibuang, kini limbah organik justru dikumpulkan dan diolah karena bernilai rupiah.

Bagi PNM, program klaster maggot ini bukan sekadar aktivitas pelatihan. Erwin menegaskan, penguatan ekonomi perempuan adalah langkah strategis dalam membangun ketahanan keluarga.

“Kami ingin usaha yang tumbuh dari klaster ini bukan hanya produktif, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Ia juga berharap sinergi antara lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat melahirkan ekosistem ekonomi sirkular di Kabupaten Kuningan ekonomi yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan.

Di tengah fakta bahwa timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai sekitar 24,94 juta ton per tahun yang sebagian besar berupa sampah organik inisiatif seperti ini menjadi relevan. Limbah yang kerap menjadi persoalan lingkungan, justru dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru.

“Melalui budidaya maggot, sampah rumah tangga yang selama ini menjadi beban bisa berubah menjadi peluang. Semoga ini memberi manfaat lebih luas,” ucapnya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....