Bershalawat Tetap Bisa Diamalkan Setiap saat di tengah Kesibukan
- 30 Agt 2026 13:50 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Kesibukan bekerja dinilai bukan alasan untuk meninggalkan amalan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Umat Muslim tetap dapat bershalawat di sela aktivitas sehari-hari selama dilakukan pada kondisi dan tempat yang diperbolehkan.
Ustadz H. Ahmad Sholeh Muhsin, Lc. M.Pd., dalam program Mutiara Pagi RRI Cirebon, Sabtu, 29 Agustus 2026, mengatakan istiqamah dalam bershalawat dapat dimulai dengan menetapkan target. Target tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Untuk istiqamah bershalawat tentunya kita punya target. Mungkin pertama sehari dengan bacaan shalawat apa saja yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu bacaan yang mudah diamalkan adalah Shalawat Jibril. Setelah mampu mempertahankan kebiasaan tersebut, jumlah bacaan dapat ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai target yang lebih banyak.
Selain menentukan target, ia menyarankan umat Muslim memanfaatkan tasbih digital untuk membantu menghitung jumlah shalawat. Cara tersebut dinilai dapat memudahkan seseorang mempertahankan konsistensi amalan di tengah aktivitas.
Ia juga menjelaskan, membaca shalawat dapat dilakukan ketika bekerja apabila pekerjaan tersebut tidak mengharuskan seseorang berbicara. Waktu istirahat juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak shalawat.
“Selama kita bekerja dan pekerjaannya bukan berbicara, kita bisa bershalawat dan itu tidak mengganggu. Apalagi pada waktu istirahat, kita bisa memperbanyak shalawat,” katanya.
Baca juga: Perbanyak Shalawat di Bulan Maulid, Umat Muslim Didorong Raih Keutamaan & Syafaat
Ia menyebut sejumlah waktu yang dinilai lebih utama untuk berdoa dan beramal, di antaranya sekitar satu setengah jam sebelum Magrib, antara Magrib dan Isya, serta seperempat jam sebelum dan sesudah Subuh. Meski demikian, menurutnya shalawat pada dasarnya dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.
“Shalawat itu bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun, dalam keadaan apa pun. Allah akan menerima shalawat kita,” ucapnya.
Ia mengingatkan adanya tempat tertentu yang tidak diperbolehkan untuk melafalkan shalawat secara lisan, seperti kamar mandi atau tempat-tempat yang kotor. Dalam kondisi tersebut, ia menyebut seseorang tetap dapat bershalawat di dalam hati.
Ia berharap umat Muslim tidak menjadikan kesibukan sebagai penghalang untuk membangun kebiasaan bershalawat. Dengan target yang terukur dan dilakukan secara konsisten, amalan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Ia juga mengajak umat Islam memanfaatkan momentum bulan Maulid untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, memperbanyak shalawat merupakan salah satu bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah.
“Di bulan Maulid ini adalah kesempatan terbaik kita untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita menjadi umat yang dirindukan oleh Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....