Alon-Alon Asal Kelakon, Filosofi Lama Tetap Relevan

  • 26 Agt 2026 08:11 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Alon-Alon Asal Kelakon, Filosofi Lama Tetap Relevan

RRI.CO.ID, Cirebon - Dahulu, orang tua sering mengingatkan anak agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Nasihat yang sangat populer adalah “alon-alon asal kelakon”. Secara sederhana, filosofi tersebut mengajarkan bahwa sesuatu tidak harus dilakukan dengan tergesa-gesa, selama tujuan akhirnya dapat tercapai dengan baik.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pesan ini justru kembali menemukan relevansinya. Teknologi membuat berbagai hal dapat dilakukan dalam hitungan detik, tetapi kecepatan tidak selalu berarti ketepatan. Saat ini, masyarakat terbiasa dengan informasi instan, komunikasi cepat, hingga budaya ingin segera mendapatkan hasil.

Anak muda dapat melihat keberhasilan orang lain melalui media sosial dan kemudian merasa harus mencapai hal serupa dalam waktu singkat. Kondisi tersebut terkadang memunculkan tekanan untuk sukses lebih cepat, memiliki pekerjaan lebih awal, atau mendapatkan pengakuan sebelum benar-benar siap.

Filosofi “alon-alon asal kelakon” dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Dilansir dari UNICEF, Positive Parenting Tips for Children Aged 6–10, 15 Mei 2026; UNICEF Asia Pacific, Positive Parenting vs. Strict Parenting, bukan berarti filosofi tersebut mengajarkan kemalasan atau menunda pekerjaan.

Justru, maknanya lebih dekat dengan kehati-hatian, kesabaran, dan konsistensi. Seseorang tetap harus bergerak menuju tujuan, tetapi tidak perlu mengorbankan kesehatan, hubungan keluarga, maupun prinsip hidup hanya demi mengejar hasil cepat.

Dalam kehidupan profesional, misalnya, membangun kemampuan secara bertahap dapat menghasilkan fondasi yang lebih kuat dibandingkan mengejar posisi tinggi tanpa kesiapan. Nasihat tersebut juga relevan dalam menghadapi derasnya informasi digital.

Tidak semua informasi yang muncul di media sosial harus langsung dipercaya atau dibagikan. Membaca, memeriksa sumber, kemudian mengambil kesimpulan merupakan bentuk “alon-alon” dalam konteks kehidupan modern. Sikap semacam ini penting agar masyarakat tidak mudah terjebak hoaks, provokasi, maupun keputusan emosional.

Kebiasaan untuk tidak tergesa-gesa juga berkaitan dengan pengasuhan anak. Orang tua tidak selalu harus menuntut anak memperoleh prestasi dalam waktu singkat. Anak membutuhkan kesempatan untuk belajar, melakukan kesalahan, mencoba kembali, dan menemukan kemampuan dirinya.

UNICEF menekankan bahwa anak berkembang lebih baik ketika mendapatkan rasa aman, dukungan, dan bimbingan positif, bukan sekadar tekanan untuk patuh atau mencapai sesuatu dengan cepat. Dalam konteks keluarga, orang tua dapat menerjemahkan filosofi lama tersebut menjadi kebiasaan sederhana.

Misalnya, mengajarkan anak menyelesaikan tugas secara bertahap, membiasakan menabung, serta memberikan ruang untuk belajar dari kegagalan. Anak juga dapat diajak memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan.

Proses, pengalaman, ketekunan, dan kemampuan menghadapi kesulitan merupakan bagian penting dari perjalanan. Filosofi “alon-alon asal kelakon” akhirnya bukan sekadar peninggalan bahasa dan budaya orang tua dahulu. Ia merupakan pengingat bahwa kehidupan tidak selalu harus dikejar dengan kecepatan maksimal.

Dalam dunia yang penuh persaingan dan tuntutan, kemampuan memperlambat langkah untuk berpikir justru dapat menjadi kekuatan. Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang mampu sampai dengan cara yang baik dan tetap memiliki nilai kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....