Menjaga Lisan dan Hati Jadi Kunci Merawat Kerukunan
- 29 Jul 2026 10:00 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Menjaga lisan dan hati dari prasangka buruk menjadi salah satu akhlak yang harus dimiliki setiap muslim untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis, terlebih di tengah derasnya arus informasi serta interaksi di media sosial. Pesan tersebut disampaikan Ustaz KH Dr. Ahmad Syathori dalam program Mutiara Pagi RRI Cirebon, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut KH Ahmad Syathori, lisan dan hati merupakan dua anugerah Allah yang sangat menentukan baik buruknya perilaku seseorang. Lisan menjadi sarana berkomunikasi, sedangkan hati merupakan pengendali setiap ucapan dan tindakan manusia.
"Lisan dan hati inilah yang harus bisa kita kendalikan. Kalau tidak bisa mengendalikannya, dampaknya akan berbahaya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat," ujarnya.
Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 12 yang berisi peringatan agar umat Islam menjauhi prasangka buruk. Menurutnya, prasangka yang tidak didasari fakta dapat melahirkan kesombongan, merendahkan orang lain, hingga memicu ucapan yang menyakiti sesama.
"Allah mengingatkan orang-orang beriman agar menjauhi banyak prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan atau dugaan tanpa bukti," katanya.
Ia menjelaskan, prasangka buruk sering kali menjadi pintu masuk munculnya gibah, fitnah, hingga adu domba. Kondisi tersebut dinilai semakin mudah terjadi di era digital ketika seseorang dapat menyebarkan opini tanpa melakukan klarifikasi terhadap informasi yang diterima.
"Sekarang semuanya harus berdasarkan fakta dan data, jangan langsung bereaksi tanpa klarifikasi. Prasangka buruk bisa melahirkan fitnah, padahal fitnah lebih kejam daripada pembunuhan," ucapnya.
Baca juga: Pernikahan Bukan Sekadar Ikatan, tetapi Ibadah Membangun Keluarga Sakinah
Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa orang yang beriman hendaknya berkata baik atau lebih memilih diam. Menurutnya, ucapan yang santun mencerminkan kualitas keimanan seseorang sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama.
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam. Jangan sampai ucapan kita melukai hati orang lain," katanya.
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai cara menjaga lisan, ia menyarankan agar setiap aktivitas diawali dengan membaca basmalah, memperbanyak zikir dan istigfar, serta selalu mengingat Allah ketika muncul keinginan untuk mengucapkan sesuatu yang tidak baik.
"Kalau kita selalu berzikir kepada Allah, insyaallah saat akan mengucapkan sesuatu yang tidak baik kita akan lebih mudah menahan diri. Zikir menjadi pengingat agar lisan tetap terjaga," ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menghindari obrolan yang mengarah pada gibah. Jika tidak mampu mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermanfaat, menurutnya lebih baik meninggalkan percakapan tersebut agar tidak ikut terjerumus dalam dosa.
Menutup tausiah, Ia berharap umat Islam mampu menjadikan lisan dan hati sebagai sarana menyebarkan kebaikan. Dengan menjaga ucapan, menghindari prasangka buruk, dan memperbanyak prasangka baik, kehidupan bermasyarakat akan dipenuhi ketenangan, saling menghormati, serta keberkahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....