Guru Perlu Peka terhadap Kebutuhan Sosial-Emosional Siswa

  • 31 Agt 2026 19:59 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Peningkatan kompetensi tenaga pendidik dalam merespons kebutuhan psikologis peserta didik tidak berarti guru harus mengambil peran sebagai psikolog. Guru justru perlu dibekali kemampuan melakukan observasi, mengenali kondisi anak, dan menentukan langkah yang tepat ketika membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Sekretaris Program Studi PGMI Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Evan Pranawa, M.Pd., mengatakan setiap anak memiliki perkembangan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendidik perlu mengamati peserta didik secara individual sebelum menentukan pendekatan.

“Mungkin yang pertama kita pelajari kita harus tahu bahwasanya kita ini bukan psikolog. Itu yang pertama. Kita juga bukan tenaga medis gitu yang bisa meneliti terkait dengan kesehatan dan kawan-kawan gitu ya. Sebenarnya yang kita ajarkan lebih ke arah observasi gitu,” katanya dalam Program Pengarusutamaan Gender - Branda Asta Cita RRI Cirebon edisi Senin, 31 Agustus 2026 .

Menurutnya, observasi menjadi kemampuan penting bagi calon guru agar dapat memahami perkembangan peserta didik tanpa melakukan pelabelan berdasarkan gender. Guru perlu melihat kebutuhan, minat, dan bakat anak secara menyeluruh.

Ia menjelaskan terdapat beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam merespons kondisi peserta didik, mulai dari observasi, memahami kondisi anak, memeriksa respons peserta didik, memberikan respons, hingga menentukan apakah diperlukan rujukan.

“Karena balik lagi kita ini hanya observer gitu ya. Kalau guru itu tidak bisa seperti psikolog yang mendiagnosa bahwasanya anak murid kita itu depresi dan kawan-kawan guru kan tidak bisa seperti itu. Jadi memang hanya kita bantu rujukannya seperti itu,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan tersebut perlu dimasukkan dalam pembekalan bagi calon pendidik. Guru harus mengetahui batas kompetensinya sehingga tidak melakukan diagnosis terhadap kondisi psikologis anak.

Selain kemampuan observasi, calon guru juga perlu memahami pembelajaran sosial dan emosional. Menurut Evan, pendekatan tersebut dapat membantu anak mengenali dan mengelola emosinya.

Ia menyebut lima aspek penting dalam pembelajaran sosial dan emosional, yakni self awareness, self management, social awareness, relationship skills, dan decision making.

“Yang pertama itu adalah self awareness. Lalu yang kedua ada self management, yang ketiga ada social awareness, ketiga relationship skills, dan yang terakhir adalah decision making gitu ya,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan sosial dan emosional juga perlu dipahami orang tua. Anak perlu diberi ruang untuk mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat tanpa dibatasi stereotip gender.

“Anak itu boleh kok nangis, boleh kok marah gitu, tidak apa-apa kok,” ujarnya.

Ia menegaskan, guru memiliki peran penting dalam menciptakan ruang belajar yang aman. Namun, ketika ditemukan kondisi yang berada di luar kapasitas pendidik, guru perlu melakukan rujukan kepada pihak yang memiliki kompetensi sesuai.

Dengan demikian, peningkatan kompetensi tenaga pendidik diarahkan agar guru semakin peka terhadap kebutuhan peserta didik, mampu memberikan respons yang tepat, serta memahami batas kewenangannya dalam menangani persoalan psikologis anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....