MABBIM Perkuat Kerja Sama Bahasa Serumpun Hadapi Tantangan Era Digital

  • 22 Jun 2026 10:42 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Transformasi digital yang semakin cepat tidak menyurutkan upaya negara-negara serumpun untuk menjaga dan mengembangkan bahasa sebagai identitas budaya sekaligus sarana komunikasi lintas negara. Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Musyawarah Sekretariat Ke-28 Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia (MABBIM) yang mempertemukan delegasi dari tiga negara dalam forum kerja sama kebahasaan.

Untuk pertama kalinya sejak forum ini digelar, Musyawarah Sekretariat MABBIM berlangsung secara daring. Meski tanpa pertemuan tatap muka, para peserta menegaskan bahwa semangat kolaborasi yang telah dibangun selama lebih dari lima dekade tetap berjalan kuat dan relevan.

Ketua MABBIM Indonesia, Hafidz Muksin, mengatakan forum tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan kerja sama kebahasaan sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat serumpun di kawasan. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya menjadi peluang untuk memperluas ruang kolaborasi, bukan menjadi hambatan dalam menjalankan agenda bersama.

“Kerja sama yang telah dibangun selama puluhan tahun harus terus dilanjutkan dan diperkuat. Ruang digital memungkinkan kita tetap bekerja bersama untuk mengembangkan bahasa serumpun meskipun berada di negara yang berbeda,” ujarnya, Senin 22 Juni 2026.

Hafidz menilai Musyawarah Sekretariat memiliki posisi strategis dalam menentukan arah program dan kebijakan MABBIM ke depan. Karena itu, forum tersebut menjadi wadah penting untuk menyusun berbagai langkah yang dapat memperkuat eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di tengah dinamika global.

Sejak berdiri pada tahun 1972, MABBIM tidak hanya berfungsi sebagai forum pengembangan bahasa, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi budaya yang mempererat hubungan antara Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia.

Melalui berbagai program dan kesepakatan bersama, organisasi ini berupaya memastikan bahasa serumpun tetap berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, serta komunikasi masyarakat di kawasan Asia Tenggara.

Sekretaris MABBIM Indonesia, Dora Amalia, menuturkan bahwa pelaksanaan musyawarah secara virtual menjadi bukti kemampuan organisasi dalam beradaptasi dengan perubahan zaman.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi justru membuka peluang baru untuk memperluas kerja sama dan meningkatkan efektivitas koordinasi antarnegara anggota. “Forum ini bukan hanya agenda rutin, tetapi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memajukan bahasa serumpun. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi bagian penting dari upaya tersebut,” katanya.

Dora menambahkan, keberlangsungan kerja sama yang telah terjalin selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa bahasa masih memiliki peran strategis dalam membangun hubungan antarbangsa, terutama di kawasan yang memiliki akar budaya dan sejarah yang sama.

Apresiasi terhadap penyelenggaraan musyawarah juga disampaikan Sekretaris MABBIM Brunei Darussalam, Dayang Hajah Annisa binti Haji Moksin. Ia menilai penyelenggaraan forum secara daring menunjukkan kesungguhan negara-negara anggota untuk tetap menjaga kesinambungan kerja sama meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Ia berharap berbagai pembahasan dalam musyawarah tersebut dapat menghasilkan gagasan baru yang mendukung pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Harapan serupa disampaikan Sekretaris MABBIM Malaysia, Mohd Riduwan bin Wahab. Ia menekankan bahwa kerja sama kebahasaan tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan bahasa, tetapi juga memperkuat persahabatan dan saling pengertian antarnegara anggota.

“Bahasa harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Karena itu, kolaborasi antarnegara menjadi sangat penting untuk memastikan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa ilmu, budaya, dan komunikasi yang relevan bagi generasi masa depan,” ujarnya.

Musyawarah Sekretariat Ke-28 MABBIM menjadi penanda bahwa kerja sama kebahasaan di kawasan tetap berjalan dinamis di tengah perubahan teknologi global. Melalui kolaborasi yang terus diperkuat, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia berupaya menjaga warisan bahasa serumpun sekaligus mempersiapkannya menghadapi tantangan masa depan.

Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi budaya yang memperkokoh identitas, persaudaraan, dan kerja sama antarbangsa serumpun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....