Pemkot Bandung Penguatan Ketahanan Pangan dan Pentingnya Suplai Pariwisata
- 19 Jun 2026 13:16 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung terus mengkaji berbagai langkah untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan sektor pariwisata. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah kerja sama penyediaan komoditas pangan dengan daerah lain, seperti yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa Kota Bandung tidak memiliki lumbung pangan sendiri dan selama ini sangat bergantung pada pasokan dari berbagai daerah serta dukungan dari Perum Bulog.
“Memang perlu dipikirkan. Secara teori Kota Bandung bisa seperti Jakarta, yaitu menyewa lahan di daerah lain untuk menjamin suplai pangan. Tapi pertanyaannya, komoditas apa yang akan dijamin, Karena harus spesifik,” ujar Farhan, Jumat 19 Juni 2026.
Menurutnya, Jakarta telah menerapkan pola kerja sama yang jelas untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Pasokan beras, misalnya, diperoleh melalui kerja sama dengan wilayah penghasil padi di Kabupaten Subang, sementara kebutuhan sapi dipenuhi melalui kontrak jangka panjang dengan daerah di Nusa Tenggara Timur.
Namun demikian, Farhan menilai Kota Bandung perlu melakukan kajian mendalam sebelum menerapkan pola serupa. Pemerintah harus memastikan bahwa komoditas yang dikontrak benar-benar dibutuhkan dan tidak dapat dipenuhi secara optimal melalui mekanisme pasar.
“Kita harus menghitung dengan cermat. Jangan sampai sudah mengeluarkan biaya besar untuk kontrak jangka panjang, ternyata kebutuhan pasokan masih bisa dipenuhi oleh mekanisme pasar yang berjalan saat ini,” katanya.
Farhan menjelaskan, selama ini kebutuhan pangan Kota Bandung sebagian besar terpenuhi melalui mekanisme pasar. Oleh karena itu, fokus Pemerintah Kota Bandung bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian adalah menjaga stabilitas harga melalui pengendalian inflasi.
Upaya tersebut dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan Bank Indonesia yang secara langsung memantau perkembangan inflasi daerah.
“Kalau di Kota Bandung, kunci pengendalian inflasi itu ada pada suplai dan distribusi. Selama pasokan tersedia dan distribusi lancar, harga bisa lebih terkendali,” ucapnya.
Meski kebutuhan pangan saat ini masih dapat terpenuhi, Farhan mengungkapkan bahwa tingkat inflasi Kota Bandung masih menjadi yang tertinggi di Jawa Barat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh lonjakan permintaan bahan pangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Bandung sejak akhir tahun lalu menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan permintaan pangan, khususnya untuk sektor kuliner.
“Sejak Desember hingga sekarang jumlah wisatawan yang datang ke Bandung meningkat sangat signifikan. Ini tentu berdampak pada kebutuhan bahan pangan,” katanya.
Lonjakan aktivitas wisata kuliner membuat permintaan berbagai komoditas pangan meningkat tajam. Dampaknya, harga bahan pangan di pasar ikut terdorong naik karena pasokan harus memenuhi kebutuhan restoran, hotel, pelaku usaha kuliner, serta masyarakat umum secara bersamaan.
“Ketika permintaan bahan pangan untuk sektor wisata kuliner naik, tentu berpengaruh kepada warga yang tinggal di Bandung. Harga di pasar tidak bisa dibedakan mana untuk restoran dan mana untuk kebutuhan rumah tangga. Akibatnya harga menjadi lebih tinggi,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Kota Bandung kini tengah memikirkan strategi untuk menambah suplai bahan pangan guna mendukung pertumbuhan sektor pariwisata tanpa membebani masyarakat.
“Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menambah suplai bahan pangan untuk Kota Bandung, sehingga kebutuhan industri pariwisata dapat terpenuhi tanpa mengganggu kebutuhan warga,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....