Setelah Jabar Hattrick Juara PON, Apakah Akan Quadtrick atau Justru Turun Panggung?

  • 19 Jun 2026 13:02 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - PON XXII tahun 2028 yang akan digelar di DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tinggal menghitung waktu. Sekilas dua tahun terdengar masih panjang, namun dalam dunia pembinaan olahraga prestasi, dua tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan atlet, pelatih, sistem pembinaan, hingga dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

Jawa Barat saat ini berdiri di atas catatan sejarah yang membanggakan. Tiga kali berturut-turut menjadi juara umum PON, mulai dari PON XIX di Jawa Barat, PON XX di Papua, hingga PON XXI di Aceh-Sumut. Sebuah capaian yang tidak lahir dari keberuntungan, melainkan hasil kerja panjang, investasi besar, dan pembinaan yang berkesinambungan.

Namun pertanyaan yang kini layak diajukan kepada publik dan para pemangku kebijakan adalah: apakah Jawa Barat akan mencetak sejarah baru dengan meraih quadtrick juara umum PON, atau justru harus rela turun panggung dan menyaksikan provinsi lain mengambil alih singgasana?

Pertanyaan tersebut bukanlah pesimisme. Justru sebaliknya, ini adalah alarm yang harus dibunyikan sejak dini.

Tahun 2026, Jawa Barat akan menggelar Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), ajang olahraga multi cabang terbesar dan paling strategis dalam proses regenerasi atlet. Dari ajang inilah biasanya lahir bibit-bibit unggul yang kemudian diproyeksikan untuk memperkuat kontingen Jawa Barat pada level nasional, termasuk PON.

Namun hingga saat ini, persoalan yang menjadi perhatian serius adalah belum cairnya anggaran, sementara waktu pelaksanaan terus mendekat. Kondisi ini berpotensi mengganggu berbagai tahapan persiapan, mulai dari pelaksanaan program latihan, pemusatan latihan daerah, hingga kesiapan sarana dan prasarana pertandingan.

Pertanyaannya sederhana. Bagaimana mungkin kita berharap lahir atlet-atlet terbaik jika proses pencarian dan pembinaannya sendiri tidak mendapat dukungan yang cukup sejak awal?

Olahraga prestasi tidak dibangun dalam semalam. Atlet juara tidak lahir dari keputusan mendadak yang dibuat menjelang pertandingan. Mereka lahir dari sistem yang berjalan bertahun-tahun, dari latihan yang konsisten, dan dari kepastian dukungan yang diberikan kepada mereka.

Ancaman yang lebih nyata saat ini adalah potensi kehilangan atlet-atlet terbaik Jawa Barat. Dalam dunia olahraga modern, atlet juga memikirkan masa depan mereka. Ketika kepastian pembinaan dan dukungan menjadi tanda tanya, maka peluang terjadinya mutasi atlet ke provinsi lain menjadi semakin besar.

Fenomena tersebut bukan sekadar kekhawatiran. Pada beberapa cabang olahraga strategis seperti renang dan atletik, sudah terdapat atlet yang mengajukan mutasi ke DKI Jakarta. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin cabang-cabang olahraga lainnya akan mengalami situasi serupa.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?

Pertanyaan ini seharusnya tidak dijawab dengan saling menyalahkan. Sebab prestasi olahraga Jawa Barat bukan milik satu organisasi, bukan milik satu cabang olahraga, dan bukan pula milik satu pemimpin. Prestasi olahraga adalah hasil kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah sebagai pemilik kebijakan dan anggaran, KONI sebagai pembina prestasi, pengurus cabang olahraga, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat yang memberikan dukungan moral.

Jika seluruh pihak mampu duduk bersama, membaca situasi secara objektif, dan mencari solusi secara kolektif, maka peluang Jawa Barat untuk mempertahankan dominasinya masih sangat terbuka.

Namun jika masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri, jika olahraga terus ditempatkan sebagai sektor pelengkap dan bukan investasi strategis pembangunan daerah, maka kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa Jawa Barat tidak hanya turun panggung, tetapi juga berpotensi semakin tertinggal dari daerah-daerah lain yang kini mulai berlari lebih cepat.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata soal medali atau gelar juara umum. Persoalan ini adalah tentang keberanian menentukan prioritas.

Apakah olahraga masih menjadi agenda penting Jawa Barat?

Apakah prestasi yang selama ini dibanggakan akan terus dijaga melalui kebijakan yang konsisten?

Ataukah kita hanya akan menikmati cerita kejayaan masa lalu sambil perlahan kehilangan masa depan?

Sejarah mencatat Jawa Barat mampu mencetak hattrick juara PON. Tetapi sejarah tidak akan memberi hadiah quadtrick hanya karena prestasi masa lalu. Quadtrick hanya dapat diraih melalui komitmen, keberpihakan anggaran, pembinaan yang berkelanjutan, dan kesadaran bersama bahwa olahraga adalah investasi jangka panjang.

Karena dalam olahraga prestasi, kemenangan bukanlah hasil dari kerja spontan dan instan. Kemenangan adalah buah dari keputusan-keputusan yang diambil hari ini.

Ditulis oleh:

Epriyanto Kasmuri

Ketua DPD PERBASI Jawa Barat (2026–2030)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....