Pemkot Perkuat Intervensi Kesehatan Mental Anak dan Remaja
- 08 Feb 2026 17:45 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menaruh perhatian serius terhadap kondisi kesehatan mental anak dan remaja yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut situasi ini sebagai alarm penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah pencegahan serta intervensi sejak dini.
“Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya,” ujar Farhan, Minggu 8 Februari 2026.
Menurut Farhan, gangguan kesehatan mental tidak muncul secara tiba-tiba. Tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama dapat berkembang menjadi stres berat, depresi, hingga pada kondisi ekstrem memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
Oleh karena itu, persoalan kesehatan mental harus dipandang sebagai tragedi kemanusiaan yang membutuhkan empati dan penanganan secara menyeluruh.Ia menegaskan, isu ini tidak bisa dianggap sepele atau hanya sebagai masalah individu. Perlu keterlibatan keluarga, sekolah, dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak-anak.
Farhan juga menyoroti kuatnya pengaruh tekanan sosial di era digital yang membuat anak dan remaja semakin rentan. Jika pada masa lalu perundungan hanya terjadi di lingkungan terbatas seperti sekolah atau pergaulan sekitar, kini tekanan tersebut dapat menyebar luas melalui media sosial dan disaksikan oleh publik dalam skala besar.
“Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat. Ini berbahaya kalau kita anggap sepele,” jelasnya.
Baca Juga: Pemkab Sumedang Serahkan Insentif untuk 5.635 Satlinmas
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung tengah menyiapkan program intervensi kesehatan mental yang akan diterapkan di lingkungan sekolah. Program ini melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK), psikolog, serta psikolog klinis untuk melakukan asesmen, deteksi dini, hingga pendampingan langsung kepada siswa yang membutuhkan.
Farhan menekankan bahwa asesmen kesehatan mental bukanlah bentuk pelabelan negatif terhadap anak. Ia mengimbau para orang tua agar tidak merasa tersinggung atau menolak ketika anaknya masuk dalam proses asesmen tersebut.
“Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua,” ucapnya.
Selain intervensi psikologis, Pemkot Bandung juga menaruh perhatian pada penguatan literasi digital sebagai bagian penting dari upaya pencegahan. Kemampuan anak dalam menyaring informasi, memahami dinamika media sosial, menghadapi perundungan daring, serta mengelola tekanan sosial di ruang digital dinilai sangat krusial untuk menjaga kesehatan mental generasi muda.
“Penguatan literasi digital penting sebagai bagian dari pencegahan, agar anak mampu menyaring informasi dan memahami situasi di media sosial,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....