Gora Nebulana Dukung Gianto Hartono Pimpin KONI Jawa Barat Mendatang
- 21 Sep 2026 15:20 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Dunia Wushu bagi Gora Nebulana bukan sekadar olahraga yang dijalani untuk mengejar prestasi dan medali. Sebagai pelatih sekaligus orang tua atlet, Gora memandang Wushu sebagai bagian dari perjalanan hidup keluarganya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Ada mimpi yang diwariskan, ada perjuangan yang diteruskan, dan ada nama keluarga yang harus dijaga dengan kerja keras, disiplin, dan kehormatan,” kata Gora. Nilai-nilai tersebut kemudian ditanamkan kepada anak-anaknya sejak usia dini melalui latihan Wushu yang dijalani secara konsisten.
Anak-anak Gora mulai mengenal dan berlatih Wushu sejak berusia sekitar tiga tahun. Menurutnya, keputusan tersebut bukan semata-mata untuk menjadikan mereka juara, melainkan agar sejak kecil memahami arti perjuangan, disiplin, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap olahraga.
“Bukan karena kami ingin memaksa mereka menjadi juara, tetapi karena sejak kecil kami ingin mereka mengenal arti perjuangan, disiplin, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap olahraga yang telah menjadi bagian dari keluarga kami,” ujarnya.Senin 21 September 2026.

Bagi Gora, setiap sesi latihan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar persiapan menghadapi sebuah pertandingan.
Di balik setiap latihan terdapat mimpi seorang ayah, harapan keluarga, serta perjalanan panjang yang ingin terus dilanjutkan. Karena itu, kebanggaan bagi Gora tidak pernah hanya diukur dari jumlah medali yang berhasil dikumpulkan oleh anak-anaknya.
“Setiap latihan bukan sekadar persiapan menuju pertandingan, karena di sana ada mimpi seorang ayah, ada harapan keluarga, dan ada perjalanan yang ingin kami teruskan,” tuturnya. Ia meyakini, proses panjang yang dilalui seorang atlet justru menjadi bagian terpenting dalam membentuk karakter dan mental juara.
Perjalanan keluarga Gora tidak dapat dilepaskan dari sosok Gogi Nebulana, yang merupakan paman sekaligus pelatih dan memiliki peran penting dalam perjalanan Wushu keluarga mereka. Pada 2007, Gogi mencatat sejarah sebagai peraih gelar juara dunia Wushu pertama dari Indonesia.
“Pencapaian itu bukan sekadar sebuah gelar, tetapi bagi keluarga kami itu adalah warisan tentang bagaimana sebuah mimpi dapat diwujudkan melalui latihan yang panjang, kedisiplinan, keberanian, dan pengorbanan,” kata Gora. Warisan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk meneruskan perjalanan keluarga di dunia Wushu.

Tiga anak Gora, yakni Zoura, Zhealix, dan Zeela, tumbuh dengan pemahaman bahwa menjadi atlet bukan hanya persoalan mengejar prestasi pribadi. Mereka menyadari bahwa setiap pertandingan juga membawa nama keluarga, pelatih, daerah, dan sejarah yang telah dibangun sebelumnya.
Zoura tercatat meraih gelar juara dunia Wushu Junior pada 2012, 2014, dan 2016, serta juara Asia Wushu Junior pada 2013 dan 2015. Ia juga berhasil menjadi juara PON 2021, sementara Zhealix meraih juara PON Beladiri Kudus 2025, juara nasional Wushu Junior 2015-2023, serta juara Babak Kualifikasi PON 2023.
Sementara itu, Zeela menjalani perjalanan panjang dengan torehan sebagai juara nasional Wushu Junior 2012-2020 dan juara Babak Kualifikasi Porda Jawa Barat 2025. Bagi Gora, berbagai prestasi tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan karakter, bukan sekadar catatan kemenangan di atas kertas.

“Jangan pernah menjadikan medali sebagai satu-satunya alasan untuk berlatih, karena medali bisa hilang, rekor bisa dipecahkan, dan gelar bisa berganti,” tegas Gora. Menurutnya, karakter, kehormatan, serta nama baik yang dibangun melalui perjalanan seorang atlet akan bertahan jauh lebih lama dibandingkan sebuah medali.
Pandangan tersebut pula yang membuat Gora memberikan perhatian terhadap sosok pengurus olahraga yang dinilainya memiliki kepedulian terhadap persoalan atlet. Ia menilai, persoalan yang bagi sebagian orang terlihat administratif dapat menjadi sangat penting bagi atlet karena berkaitan langsung dengan kesempatan mereka untuk bertanding dan melanjutkan karier.
“Bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah persoalan administrasi, tetapi bagi seorang atlet bisa jadi itu adalah pintu menuju kesempatan,” ungkapnya. Sebagai orang tua, Gora memahami bahwa setiap kesempatan bertanding merupakan harapan bagi atlet yang telah menjalani latihan bertahun-tahun.
Dalam perjalanan terbaru, Surat Keputusan (SK) atlet Wushu Zhealix, Zoura, dan Zeela telah terbit dan ketiganya dinyatakan lolos DRM di Kota Bekasi. Gora pun menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu proses tersebut, termasuk Gianto Hartono yang menurutnya memberikan perhatian dan dukungan.
“Saya bersyukur dan sebagai pelatih sekaligus orang tua, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses tersebut. Secara khusus, saya juga memberikan apresiasi kepada Gianto Hartono atas perhatian dan dukungan yang kami rasakan,” katanya.
Menurut Gora, dukungannya kepada Gianto Hartono bukan sekadar bentuk pujian personal, melainkan lahir dari pengalaman panjangnya sebagai mantan atlet, pelatih, sekaligus orang tua atlet. Ia menilai pengalaman langsung di lapangan penting untuk melihat seperti apa kepemimpinan olahraga yang benar-benar memahami kebutuhan atlet dan cabang olahraga.
“Saya telah menjadi atlet, saya telah menjadi pelatih, dan sekarang saya menjadi ayah yang melihat anak-anaknya menjalani perjalanan yang sama,” ujar Gora. Dari pengalaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa olahraga membutuhkan pemimpin yang memahami bahwa di balik setiap atlet terdapat manusia, keluarga, mimpi, serta pengorbanan yang tidak sedikit.

Karena alasan tersebut, Gora menyatakan dukungannya kepada Gianto Hartono dalam proses pemilihan Ketua Umum KONI Jawa Barat periode 2026-2030. Ia berharap kepemimpinan KONI Jabar ke depan semakin dekat dengan atlet dan cabang olahraga, tidak hanya hadir ketika prestasi telah diraih, tetapi juga ketika perjuangan masih berlangsung.
“Pemimpin olahraga yang baik bukan hanya mereka yang melihat hasil di podium, tetapi mereka yang memahami perjalanan panjang seorang atlet untuk bisa sampai ke podium tersebut,” tegasnya. Bagi Gora, perhatian terhadap atlet harus dibangun melalui sistem yang memberikan kesempatan kepada anak-anak Jawa Barat untuk berlatih, bertanding, berkembang, dan mengejar prestasi.
“Wushu bagi keluarga kami bukan sekadar olahraga, tetapi mimpi yang diwariskan, kehormatan yang dijaga, dan kebanggaan yang diperjuangkan,” kata Gora. Ia berharap semakin banyak anak-anak Jawa Barat memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi hingga mampu membawa nama daerah dan Indonesia ke panggung dunia.
“Setiap juara selalu bermula dari satu mimpi kecil, dan tugas kita adalah menjaga agar mimpi itu tetap hidup,” pungkas Gora. Ia berharap semangat tersebut menjadi bagian dari perhatian dalam pembinaan olahraga Jawa Barat sehingga perjuangan atlet, pelatih, dan keluarga dapat berjalan beriringan menuju prestasi yang lebih tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....