Koni Jabar 2030, Saatnya Memilih Sistem, Bukan Sekedar Pemimpin
- 10 Sep 2026 20:32 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Kontestasi menuju Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Jawa Barat 2026 mulai memasuki babak yang menarik. Sejumlah nama mulai muncul, dukungan mulai dihitung, komunikasi antarcabang olahraga dan KONI kabupaten/kota semakin intensif, sementara publik mulai membaca arah kepemimpinan olahraga Jawa Barat untuk empat tahun ke depan.
Namun ada satu hal yang menurut saya harus diletakkan di atas seluruh dinamika tersebut: Musorprov bukan semata-mata momentum memilih siapa yang menjadi Ketua Umum KONI Jawa Barat. Musorprov adalah momentum menentukan sistem seperti apa yang akan mengelola olahraga Jawa Barat sampai 2030.
Ini penting karena Jawa Barat tidak kekurangan orang yang memiliki pengalaman organisasi. Jawa Barat juga tidak kekurangan atlet berprestasi, pelatih berkualitas, maupun cabang olahraga yang mempunyai tradisi juara.
Yang perlu kita tanyakan justru:
Apakah seluruh potensi tersebut sudah dikelola dalam sebuah sistem yang modern, terintegrasi dan berkelanjutan?
Dari "Siapa Ketua?" menjadi "KONI seperti Apa?"
Perdebatan menjelang Musorprov biasanya sangat mudah terjebak pada pertanyaan: siapa calon terkuat, siapa yang mendapat dukungan cabor, siapa yang memiliki jaringan paling luas, atau siapa yang mempunyai akses paling baik kepada pemerintah.
Semua itu merupakan bagian dari realitas politik organisasi.
Tetapi olahraga Jawa Barat terlalu besar jika masa depannya hanya ditentukan oleh kalkulasi dukungan empat tahunan.
Kita membutuhkan pergeseran paradigma.
Dari: Politik siapa yang menang.
menjadi: Politik gagasan tentang apa yang harus dikerjakan setelah menang.
Karena seorang Ketua Umum KONI pada akhirnya tidak dinilai dari berapa banyak dukungan yang diperolehnya ketika Musorprov, melainkan dari seberapa baik ia mampu mengubah dukungan tersebut menjadi prestasi, tata kelola dan kesejahteraan insan olahraga.

Jawa Barat Harus Berani Naik Kelas.
Jawa Barat memiliki modal besar.
Prestasi olahraga, jumlah penduduk, basis atlet, keberadaan perguruan tinggi, potensi industri, dunia usaha, infrastruktur dan kekuatan cabang olahraga merupakan modal yang seharusnya menjadikan Jawa Barat sebagai laboratorium olahraga nasional.
Karena itu, target KONI Jawa Barat tidak boleh berhenti pada: “mempertahankan juara.”
Target tersebut harus dinaikkan menjadi:
“membangun sistem yang secara konsisten menghasilkan juara.”
Ini dua hal yang berbeda.Menjadi juara adalah hasil.
Membangun sistem juara adalah warisan.
Ketua KONI yang akan memimpin hingga 2030 harus berpikir pada level kedua.
Lima Agenda Strategis KONI Jabar 2030.
Menurut saya, sedikitnya terdapat lima agenda yang harus menjadi kontrak moral kepemimpinan KONI Jawa Barat periode mendatang.
Pertama, KONI berbasis data.
Era olahraga modern tidak dapat dikelola hanya berdasarkan intuisi. Jawa Barat membutuhkan _integrated sports data system_ yang memuat pemetaan atlet, pelatih, prestasi, usia, potensi, program latihan, kebutuhan pembinaan, riwayat pertandingan, hingga proyeksi prestasi.
Dengan data yang baik, KONI dapat mengetahui bukan hanya siapa yang juara hari ini, tetapi siapa yang berpotensi menjadi juara lima atau sepuluh tahun mendatang.
Kedua, sport science harus menjadi sistem, bukan slogan.Prestasi olahraga dunia dibangun melalui ilmu.Nutrisi, psikologi olahraga, fisiologi, biomekanika, analisis pertandingan, pemulihan, teknologi latihan dan manajemen beban atlet harus menjadi bagian dari pembinaan.
Jawa Barat perlu membangun pusat keunggulan olahraga yang mempertemukan atlet, pelatih, akademisi, dokter olahraga, ilmuwan olahraga dan teknologi. Kita tidak boleh hanya mencari atlet berbakat. Kita harus menciptakan lingkungan yang membuat bakat tersebut menjadi prestasi.

Ketiga, kesejahteraan atlet dan pelatih harus menjadi prioritas.
Atlet bukan sekadar angka dalam tabel perolehan medali.Mereka adalah manusia yang mengorbankan waktu, pendidikan, tenaga dan masa mudanya untuk membawa nama Jawa Barat.
Karena itu, sistem pembinaan harus memikirkan atlet secara utuh: pendidikan, kesehatan, karier, perlindungan hukum dan masa depan setelah tidak lagi menjadi atlet.Hal yang sama berlaku bagi pelatih. Kita tidak mungkin menuntut prestasi kelas dunia dengan sistem penghargaan dan perlindungan yang tidak memadai.
Keempat, tata kelola harus diperkuat.
KONI Jawa Barat harus menjadi contoh organisasi olahraga yang transparan, akuntabel dan profesional.
Anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan.
Program harus memiliki indikator kinerja.
Pengambilan keputusan harus memiliki dasar yang jelas. Potensi konflik kepentingan harus dikelola. Dan setiap persoalan organisasi harus diselesaikan berdasarkan AD/ART, peraturan organisasi dan ketentuan hukum yang berlaku.
Prestasi dan tata kelola bukan dua hal yang bertentangan. Justru organisasi yang sehat akan lebih mampu menghasilkan prestasi yang berkelanjutan.
Kelima, olahraga harus mulai membangun kemandirian ekonomi.
Pemerintah merupakan mitra strategis olahraga.
Tetapi olahraga Jawa Barat tidak seharusnya selamanya melihat anggaran pemerintah sebagai satu-satunya sumber daya. Dunia usaha, sponsorship, _sport marketing,_penyelenggaraan event, _sport tourism,_ kerja sama perguruan tinggi dan inovasi ekonomi olahraga harus dikembangkan secara serius. KONI masa depan harus mampu menjadi penghubung antara olahraga dan ekosistem ekonomi.
Dengan demikian, olahraga bukan hanya penerima anggaran.
Olahraga juga menjadi pencipta nilai.
Hubungan dengan Pemerintah Harus Sehat.KONI Jawa Barat membutuhkan pemerintah. Pemerintah juga membutuhkan KONI. Keduanya mempunyai tujuan yang sama: meningkatkan prestasi dan kualitas olahraga Jawa Barat.
Karena itu, hubungan KONI dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus dibangun dalam kerangka kemitraan kelembagaan.
KONI tidak boleh menjadi organisasi yang selalu berhadap-hadapan dengan pemerintah.
Tetapi KONI juga tidak boleh kehilangan independensinya karena terlalu bergantung kepada pemerintah.
Pemimpin KONI masa depan harus mampu membangun hubungan yang dewasa:
Dekat secara kelembagaan, independen dalam organisasi, transparan dalam penggunaan anggaran dan profesional dalam pelaksanaan program.
Inilah keseimbangan yang dibutuhkan.
Musorprov Harus Menghasilkan Rekonsiliasi
Kontestasi pasti menghasilkan perbedaan pilihan. Itu demokrasi. Tetapi jangan sampai perbedaan pilihan dalam Musorprov berubah menjadi fragmentasi organisasi setelah Musorprov selesai.
Karena setelah pemilihan, seluruh calon kembali menjadi bagian dari satu rumah besar.Cabor yang berbeda tetap mempunyai satu tujuan.KONI kabupaten/kota tetap berada dalam satu ekosistem.
Dan seluruh atlet tetap membawa satu nama: Jawa Barat.
Karena itu, siapapun yang terpilih harus mempunyai agenda rekonsiliasi sejak hari pertama.
Tidak boleh ada istilah: Kelompok yang menang dan kelompok yang kalah.
Yang harus menang adalah: Olahraga Jawa Barat. Jangan Memilih Karena Kedekatan, Pilih Karena Kapasitas Dalam kontestasi organisasi, kedekatan dengan kekuasaan tentu mempunyai nilai politik. Jaringan organisasi juga penting.Dukungan cabang olahraga merupakan modal.Pengalaman kepemimpinan adalah keunggulan.
Tetapi semuanya tidak boleh menggantikan tiga ukuran utama: integritas, kapasitas dan visi.
Kita membutuhkan Ketua KONI yang mampu berbicara dengan pemerintah, tetapi tidak kehilangan independensi.
Mampu berbicara dengan cabor, tetapi tidak terjebak kepentingan satu kelompok.
Mampu mengelola anggaran, tetapi memahami bahwa anggaran olahraga adalah amanah publik.
Mampu memenangkan PON, tetapi juga mampu membangun sistem pembinaan setelah PON selesai.
Ketua KONI Jabar 2026–2030 Harus Berpikir Melampaui Masa Jabatan.
Empat tahun merupakan masa jabatan.Tetapi olahraga tidak berhenti ketika masa jabatan berakhir.
Karena itu, Ketua KONI berikutnya harus mempunyai keberanian membuat kebijakan yang hasilnya mungkin baru terlihat setelah dirinya tidak lagi menjabat.
Membangun database atlet mungkin tidak menghasilkan medali dalam satu tahun.Membangun sport science mungkin membutuhkan waktu.
Membentuk sistem pembinaan usia dini mungkin baru menghasilkan atlet elite beberapa tahun kemudian.Membangun tata kelola yang sehat mungkin tidak selalu populer.Tetapi justru di situlah kualitas seorang pemimpin diuji.
Pemimpin yang baik tidak hanya bertanya, “apa yang bisa saya capai selama masa jabatan saya?”
Pemimpin visioner bertanya:
“Apa yang akan tetap berdiri setelah masa jabatan saya berakhir?”
Dari Jawa Barat untuk Indonesia.
Saya membayangkan KONI Jawa Barat pada 2030 bukan hanya sebagai organisasi yang mempertahankan posisi teratas dalam perolehan medali.
Saya membayangkan KONI Jabar menjadi benchmark tata kelola olahraga nasional.
Tempat lahirnya sistem pembinaan atlet berbasis data.Tempat berkembangnya sport science.Tempat pelatih mendapatkan penghargaan yang layak. Tempat atlet memperoleh perlindungan dan masa depan.Tempat pemerintah dan dunia usaha menemukan model kolaborasi baru.Dan tempat setiap kebijakan olahraga dapat dipertanggungjawabkan secara organisasi, finansial maupun hukum.Jika itu terwujud, Jawa Barat tidak hanya menghasilkan juara.
Jawa Barat menghasilkan sistem yang melahirkan juara.Dan menurut saya, itulah ukuran kepemimpinan KONI yang sesungguhnya.

Musorprov 2026 akan menentukan siapa yang memimpin KONI Jawa Barat selama empat tahun ke depan.Tetapi pilihan tersebut sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar memilih seorang ketua.
Kita sedang memilih arah.
Apakah KONI Jabar akan terus dikelola dengan pendekatan yang sama?
Ataukah kita berani membangun organisasi olahraga yang lebih modern, profesional, transparan, berbasis data, berbasis ilmu pengetahuan dan berorientasi pada kesejahteraan atlet?
Karena itu, saya kira pertanyaan paling penting menjelang Musorprov bukan:
Siapa calon yang paling kuat?
Melainkan:
“Siapa yang paling mampu membangun sistem yang kuat?”
Sebab seorang ketua hanya menjabat empat tahun.
Tetapi sebuah sistem yang baik dapat melahirkan juara selama puluhan tahun.
Dan jika Jawa Barat ingin tetap menjadi kekuatan utama olahraga Indonesia, maka saatnya kita berhenti memilih hanya berdasarkan siapa yang paling kuat hari ini.
Saatnya memilih siapa yang paling siap membangun Jawa Barat sampai 2030 dan bahkan melampaui 2030.
Penulis:
Eka Nopie Sagita, S.H., M.H.
(Advokat & Praktisi Hukum Olahraga)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....